Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Antisipasi Potensi Resiko Kebakaran Hutan, BBKSDA NTT Melindungi Kawasan Konservasi

Avatar photo

Terkait dengan Upaya perlindungan kawasan konservasi dari potensi resikor kekeringan, Arief Mahmud menjelaskan, pihaknya juga melengkapi para personilnya (Kepala Resort, red) dengan fasilitas-fasilitas pendukung seperti motor trail, pemadam kebakaran, dan genset penyiram.

Walaupun belum maksimal, namun kami telah berupaya seperti Kepala Resort kita siapkan kendaraan operasional motor trail. Dan kami juga melengkapi fasilitas dengan pemadam kebakaran, seperti mesin genset untuk menyiram. Akan tetapi itu pun tidak efektif, karena kebakaran itu terjadi di musim kemarau. Dan itu agak susah, karena air untuk minum saja sudah susah (sulit), bagaimana untuk memadamkan kebakaran?” ujarnya.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Namun, jelas Arief lebih lanjut, pihaknya tidak terlalu khwartir, karena kebakaran di wilayah NTT hanya kebanyakan rumput saja. Dan biasanya durasi kebakaran berlangsung singkat, tidak sampai satu hari sudah padam, karena bahan baku (rumput, red) telah habis terbakar seketika. Wilayah NTT memang paling banyak memiliki titik panas (hot spot) dan luas lokasi kebakaran terbanyak. Namun, dampaknya tidak terlalu mengkhawatirkan seperti daerah lain yang merambat sampai Luar Negeri.

Akan tetapi, kami selalu melakukan pemantauan lewat aplikasi SiPongi (sebuah aplikasi Sistem Informasi Peringatan dan Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Berbasis Web. red) dan ketika kita mengetahui bahwa ada terjadi kebakaran, kita langsung turun ke lapangan. Dan ketika kalau terjadi kebakaran, petugas juga akan mengukur luas lahan kebakaran tersebut, karena kita memiliki petugas lapangan yang selalu ada di lapangan,” jelasnya.

Catatan:
Dilansir dari https://indonesia.go.id/layanan/kependudukan/sosial/sipongi-klhk?lang=1. Aplikasi SiPongi berbasis data bernama satelit NOAA dan Tera serta dibantu cahaya matahari. Cara kerjanya adalah dengan menangkap suhu dan luasan titik api lalu disampaikan ke pusat informasi dan ditampilkan ke web.
SiPongi bertujuan untuk mengantisipasi dan melakukan upaya pencegahan kebakaran hutan dengan lebih cepat sehingga bencana tersebut dapat dikurangi. Ini membantu pemerintah mengurangi titik api yang berpotensi menyumbang karbon. Sebagai catatan, Indonesia masuk ke dalam daftar 10 negara penghasil karbon terbesar di dunia. Kebakaran hutan menjadi salah satu penyebab utama tingginya karbon tersebut.

Baca Juga :  Niko Manao Minta Saksi TKP Dihadirkan Disidang Lanjutan Kasus Penganiayaan Petugas Disnak NTT

SiPongi memiliki dua tampilan yang bisa dibuka masyarakat maupun khusus pihak internal KLHK dengan unit-unit terkait dalam permasalahan kebakaran hutan.

Aplikasi ini didukung fasilitas call center dengan nomor +6281310035000 dan SMS Center pada nomor +6281297185000 untuk pengaduan titik api baru. Sistem aplikasi ini juga dapat dipantau melalui Twitter di @hotspotsipongi. (B76/tim)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung