Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Kapolda NTT Harus Beri Teguran Keras Kepada Kapolres Sikka Atas Tindakan Arogan Polisi Terhadap Aktivis PMKRI

Avatar photo

Publik pun bertanya,
pertama, sadar atau tidak Raykat melalui negara telah memberikan seragam polisi guna menjalankan tugas dan fungsi Kepolisian harus penuh simpatik, sabar dan mampu mengayomi bukannya dengan cara-cara premannisme dengan menyiram air kotor kepada para demonstran.

Kedua, apakah ada dalam protap pengamanan polisi bahwa ketika menghadapi dan untuk menghalau para demonstran, maka Polri khususnya Polres Sikka harus menyiram para aktivis itu dengan air kotor ? Dan apakah tidak ada cara lain yang lebih bermartabat dan lebih manusiawi?

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Ketiga, apakah para mahasiswa PMKRI telah melakukan tindakan anarkis sehingga cara yang paling efektif adalah dengan siram dengan air kotor ?

Keempat, sangat memalukan ternyata oknum polisi dengan seragam yang mewakili kewibawaan negara di mata masyarakat hari ini terlihat seperti seorang perempuan yang berperan sebagai “ibu rumah tangga”, menyiram dengan air kotor kepada para mahasiswa.

Harusnya sebagai aparat penegak hukum dan menjaga ketertiban umum, yang memiliki kewenangan oleh undang – undang, wajib memberikan ruang komunikasi kepada para mahasiswa/ aktivis untuk melakukan audensi dengan Kajari Sikka.

Apa alasan rasional dan argumentatif aparat polisi menghalang niat baik para demonstran bertemu dengan Kajari Sikka menanyakan keseriusan penanganan dugaan penggelapan dana sertifikasi guru.

Oleh karena itu, atas kejadian yang merendahkan martabat polisi, Kapolda NTT harus memberikan teguran keras kepada Kapolres Sikka yang baru atas sikap arogansi anak- anak buahnya dalam melakukan tindakan yang sangat tidak layak kepada para demonstran di depan Kantor Kejaksaan Negeri Sikka yang sedang melaksanakan hak konstitusinalnya menanyakan keseriusan penanganan oleh Kejaksaan Negeri Sikka kaitan dengan dugaan penggelapan dana sertifikasi guru senilai Rp 600 juta lebih. )*

Baca Juga :  Belajar dari Nepal: Mencegah Ledakan Sosial di Indonesia

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung