Redaksi76.com – Di ufuk utara Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, sehelai kisah iman yang syahdu dan mendalam baru saja ditorehkan. Minggu pagi, 11 Mei 2025, langit Wewaria masih menyisakan embun sisa hujan malam.
Di tengah alam yang bersahaja namun perkasa, ribuan umat Katolik dari dua paroki, yang terdiri dari tujuh stasi, mengarak arca Bunda Maria menyusuri jalanan tanah, kampung-kampung sederhana, hingga ke jantung derasnya Kali Loworea.
Pemandangan ini bukan sekadar ritual. Ia adalah perjumpaan antara devosi dan determinasi. Prosesi arak-arakan itu menjadi bagian dari Ziarah Pengharapan Maria: Road to Pantura, sebuah gerakan spiritual yang mengalir di setiap lekuk desa dan hati umat Katolik wilayah utara Ende, menyambut Bulan Maria – bulan penuh pengharapan dan cinta tak bersyarat kepada Bunda Suci.
Melampaui Batas Alam, Menyatu dalam Iman
Kali Loworea, sungai lebar yang arusnya kerap menggulung batu-batu besar, pada hari itu menjadi altar alam. Tidak ada jembatan beton, hanya sebuah jembatan gantung yang renta dan tak sanggup menampung langkah seribu.
Maka umat memilih jalan berani: menyeberangi aliran sungai dengan kaki dan hati yang kukuh. Arca Bunda Maria, dalam balutan kain putih dan bunga, diusung bersama semangat yang tak tergoyahkan.
Wilfridus Lera Nere, salah satu tokoh umat yang turut serta dalam prosesi, menjelaskan betapa berat dan agung momen tersebut. “Jembatan gantung tak bisa dilalui. Mobil tidak bisa masuk, motor pun harus pelan.
Maka kami berjalan, dari Kuasi Paroki Santo Fransiskus Anaranda ke Kuasi Paroki Santo Gregorius Tana Li, melewati Kampung Mulutangga, Aigana, hingga Raweka. Tiga kilometer lebih kami berjalan.”
Dari Aigana ke Raweka, arca sempat diangkut menggunakan mobil. Namun, saat mencapai bendungan, ia kembali turun ke bumi, diangkat di atas bahu, dan bersama ribuan umat menyeberangi Kali Loworea selebar 100 meter – sebuah tapal batas antara dunia dan surga kecil di ujung Ende.
Devosi yang Menghidupkan Ruang
Perarakan ini bukan hanya rangkaian upacara keagamaan. Ia adalah perayaan komunitas, spiritualitas, dan ketangguhan manusia yang mencari makna dalam perjalanan iman.
“Saat itu, hujan baru reda. Untung tak terjadi banjir,” kata Wilfridus. Arus sungai yang biasanya menjadi sumber air persawahan dan kehidupan warga, kini menjadi jalur ziarah, seakan alam pun memberi ruang bagi umat untuk bersujud dalam keteduhan kasih Maria.
Ziarah ini merupakan bagian dari rangkaian besar yang mengelilingi 14 paroki di wilayah utara Ende. Dimulai pada Sabtu, 3 Mei 2025, acara ini dibuka dengan misa meriah yang dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Ende, RD Frederikus B. Wea Dopo, dihadiri para imam serta ribuan umat dari seluruh penjuru Pantura Ende.
Arca dan Harapan yang Terus Berjalan
Saat ini, arca Bunda Maria telah tiba di Welamosa, tempatnya singgah berikut sebelum melanjutkan perjalanan sakral ke wilayah lain. Seperti lentera yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain, arca ini menghidupkan harapan dan mengukuhkan iman umat di setiap titik singgah.
Ziarah ini bukan tentang arca semata. Ia tentang perjumpaan antara langit dan bumi, tentang manusia yang merelakan dirinya menjadi bagian dari perjalanan iman yang lebih besar.
Dan di tengah derasnya Kali Loworea, di langkah kaki yang basah oleh air dan haru, umat Katolik Ende telah mengukir sebuah kenangan suci yang akan tinggal lama dalam ingatan dan batin.
Penulis : Arnold Dewa
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.













