Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Kenaikan Harga Solar Tekan Ekonomi Rakyat, Antrean di SPBU Jadi Potret Kecemasan Masyarakat

Avatar photo
Reporter : Arnold Dewa Editor: Tim
Ket.Foto: Dr.Ir.Karolus Karni Lando,MBA. Salah Satu Tokoh Masyarakat Asal NTT. Istimewa

Oleh: Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA
CEO KRQA SQC Certification Services

Redaksi76.com Kenaikan harga solar dari Rp17.000 menjadi Rp30.000 per liter membawa dampak besar terhadap kehidupan masyarakat, terutama kelompok ekonomi kecil yang sangat bergantung pada aktivitas transportasi dan distribusi barang.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Antrean panjang kendaraan di SPBU bukan sekadar pemandangan orang membeli bahan bakar. Fenomena itu mencerminkan tekanan ekonomi yang sedang dirasakan masyarakat. Banyak warga khawatir stok solar terbatas atau harga akan kembali naik, sehingga memilih membeli lebih cepat dan dalam jumlah lebih banyak.

Solar selama ini menjadi urat nadi pergerakan ekonomi rakyat. Bahan bakar ini digunakan oleh angkutan umum, truk logistik, kapal nelayan, alat pertanian, kendaraan proyek, hingga generator listrik di berbagai daerah.

Ketika harganya melonjak hampir dua kali lipat, biaya operasional masyarakat pun ikut meningkat drastis.

Dampak paling cepat terlihat pada sektor transportasi. Sopir travel, pengemudi angkutan umum, truk pengangkut barang, hingga nelayan mulai kesulitan menutupi biaya operasional harian.

Jika sebelumnya pengeluaran bahan bakar masih dapat ditutupi dari pendapatan rutin, kini banyak pelaku usaha kecil harus bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan keuangan mereka.

Kondisi tersebut memicu kenaikan tarif angkutan dan biaya distribusi barang. Akibatnya, harga kebutuhan pokok di pasar ikut terdorong naik.

Sembako, sayur-mayur, ikan, bahan bangunan, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya mengalami kenaikan karena seluruh proses distribusi bergantung pada transportasi berbahan bakar solar.

Masyarakat kecil menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya. Daya beli menurun, sementara pengeluaran rumah tangga terus meningkat.

Baca Juga :  Terjadi Krisis Literasi di Kalangan Pelajar dan Mahasiswa, Ketua FTBM NTT Minta Intervensi Lintas Sektor

Di wilayah kepulauan seperti Flores dan kawasan Indonesia Timur lainnya, tekanan ekonomi terasa lebih berat karena sebagian besar barang kebutuhan harus didatangkan dari daerah lain dengan biaya transportasi tinggi.

Kenaikan harga solar juga memberikan tekanan besar bagi petani dan nelayan. Petani harus mengeluarkan biaya lebih tinggi untuk mengangkut hasil panen dan mengoperasikan mesin pertanian.

Sementara nelayan membutuhkan modal lebih besar untuk melaut. Jika harga jual hasil produksi tidak naik sebanding dengan biaya operasional, maka pendapatan mereka otomatis menurun.

Situasi ini berpotensi melemahkan ekonomi desa, mengingat sebagian besar masyarakat di wilayah pedesaan menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perikanan.

Di sisi lain, pelaku UMKM turut menghadapi tantangan berat. Harga bahan baku meningkat dan ongkos pengiriman barang menjadi lebih mahal.

Banyak usaha kecil akhirnya terpaksa menaikkan harga jual, mengurangi kapasitas produksi, bahkan mengurangi tenaga kerja demi mempertahankan usaha.

Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini dapat memperlambat perputaran ekonomi masyarakat dan meningkatkan risiko kemiskinan apabila tidak segera diantisipasi melalui kebijakan yang tepat.

Kenaikan harga solar bukan hanya persoalan energi, tetapi menyangkut stabilitas ekonomi dan psikologis masyarakat.

Ketika harga bahan bakar melonjak tajam, seluruh rantai kehidupan ekonomi ikut terguncang — mulai dari transportasi, perdagangan, pertanian, perikanan, hingga kebutuhan sehari-hari masyarakat kecil.

Karena itu, diperlukan langkah cepat dan kebijakan yang berpihak pada rakyat agar beban ekonomi masyarakat tidak semakin berat di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung