Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Simak Solusi Yang Ditawarkan Karel Lando Untuk Menyikapi Polemik Penertiban di Ndao

Avatar photo
Reporter : Arnold Dewa Editor: Tim
Dr.Ir.Karolus Karni Lando,MBA.

Keputusan tidak boleh hanya didasarkan pada kewenangan formal, tetapi harus mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat, dampak jangka pendek dan jangka panjang, serta hasil musyawarah bersama.

Dalam banyak kasus, keputusan yang dihasilkan melalui proses kolektif dengan melibatkan berbagai keahlian akan jauh lebih kuat dan berkelanjutan dibandingkan keputusan yang diambil secara sepihak.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Prinsip terakhir, manajemen hubungan, menggarisbawahi pentingnya menjaga hubungan baik dengan seluruh pemangku kepentingan.

Pemerintah tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan masyarakat, organisasi sosial, tokoh agama, dan dunia usaha.

Hubungan yang baik akan membangun kepercayaan, sementara kepercayaan adalah modal utama dalam menjalankan setiap kebijakan publik. Tanpa kepercayaan, bahkan kebijakan yang baik sekalipun akan sulit diterima.

Jika dicermati lebih dalam, polemik di Ndao sesungguhnya menunjukkan adanya jarak antara kebijakan yang diambil dengan rasa keadilan yang dirasakan oleh masyarakat.

Ketika penertiban dilakukan tanpa solusi yang jelas, maka yang muncul bukan hanya ketidakpuasan, tetapi juga rasa ketidakadilan dan ketidakpedulian.

Dalam konteks ini, berbagai kritik yang muncul dari masyarakat, mahasiswa, dan intelektual seharusnya dilihat sebagai bentuk kepedulian dan alarm sosial, bukan sebagai ancaman terhadap pemerintah.

Sebagai jalan keluar yang bijak dan bermartabat, diperlukan langkah-langkah yang mengedepankan kemanusiaan dan keberlanjutan.

Dalam situasi seperti ini, pendekatan yang dapat dilakukan adalah memberikan ruang waktu untuk evaluasi dan dialog agar semua pihak dapat duduk bersama mencari solusi terbaik.

Dialog terbuka menjadi sangat penting untuk meredakan ketegangan dan membangun kesepahaman. Jika penertiban tetap menjadi pilihan, maka harus disertai dengan penyediaan relokasi yang layak, strategis, dan memiliki fasilitas yang memadai, sehingga masyarakat tidak kehilangan mata pencaharian.

Baca Juga :  Negara Tidak Boleh Lupa: Keadilan Sosial Adalah Mandat, Bukan Slogan

Selain itu, dukungan dalam bentuk bantuan transisi ekonomi seperti modal usaha, pelatihan, dan pendampingan menjadi langkah penting agar masyarakat dapat bangkit kembali secara mandiri.

Penataan juga perlu dilakukan secara bertahap dan humanis, dengan menghindari pendekatan yang bersifat represif.

Komunikasi publik yang transparan mengenai tujuan, rencana, dan manfaat kebijakan akan membantu masyarakat memahami arah pembangunan yang sedang dijalankan.

Dengan demikian, kebijakan tidak lagi dipersepsikan sebagai tekanan, tetapi sebagai bagian dari upaya bersama untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

Pada akhirnya, pembangunan yang sejati bukan hanya tentang penataan fisik, tetapi tentang bagaimana menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kemanusiaan.

Kabupaten Ende membutuhkan kemajuan, namun kemajuan tersebut harus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama mereka yang paling rentan.

Kepemimpinan yang kuat bukanlah yang paling keras, melainkan yang mampu mendengar, memahami, dan merangkul.

Dengan semangat kebersamaan, dialog, dan kepedulian, polemik seperti yang terjadi di Ndao tidak hanya dapat diselesaikan, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk membangun tata kelola pemerintahan yang lebih adil, bijak, dan bermartabat bagi seluruh masyarakat Ende

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung