Redaksi76.com – Di sebuah sudut Jalan Perwira, di antara harum rempah dan wangi bunga yang menyambut dari gerbang Restaurant Banyumas, tersaji bukan hanya hidangan lezat, tetapi juga peristiwa yang menyentuh nalar dan rasa: sebuah temu akrab antara dua sosok yang dulunya bersaing, kini bersanding dalam semangat membangun.
H. Djafar Achmad, mantan Bupati Ende yang dikenal dengan karismanya, dan Yosef Benediktus Badeoda, Bupati aktif yang tengah menakhodai roda pemerintahan, bertemu dalam suasana syukuran pembukaan restoran tersebut.
Bukan sekadar bertukar sapa, pertemuan itu menjadi isyarat yang kuat—bahwa Ende, kota sejarah dan harapan, sedang ditenun dengan benang kolaborasi, bukan lagi kompetisi.
Di Meja Makan, Persahabatan Dijamu
Kala itu, Rabu (16/7), udara Ende terasa lebih hangat dari biasanya. Mungkin karena silaturahmi yang terjalin di meja makan, di mana dua pemimpin yang sebelumnya berada di garis berbeda saat Pilkada 2024, kini duduk berdampingan.
Di hadapan para tamu undangan, termasuk Wakil Bupati Dominikus Minggu Mere dan sejumlah pimpinan OPD, mereka berbicara bukan sebagai rival, melainkan sebagai saudara.
“Jadi hari ini tidak ada lagi kesana kemari. Hari ini kita dukung Pak Bupati,” ucap Djafar dengan nada tegas namun lembut, disambut anggukan penuh makna dari Bupati Yosef. “Harapan saya, kita sama-sama membangun Ende agar lebih baik.”
Restoran, Rumah, dan Sejarah
Restaurant Banyumas bukanlah sekadar tempat makan. Ia berdiri di halaman kediaman pribadi Djafar Achmad, bersebelahan dengan situs bersejarah Pengasingan Bung Karno – sebuah titik penting dalam perjalanan bangsa.
Dari sinilah Djafar berharap restoran ini menjadi rumah bagi siapa pun yang ingin singgah, berdiskusi, atau sekadar meresapi cita rasa lokal dalam nuansa persahabatan.
“Kalau Pak Menteri datang, silakan tempati rumah ini. Saya serahkan ke Pak Bupati. Biar restoran ini lebih hidup,” lanjutnya, seolah menegaskan bahwa tempat ini bukan milik satu orang, tapi milik semua warga Ende.
Cita Rasa yang Menyatukan
Bupati Yosef tampak tersenyum puas usai mencicipi masakan yang disajikan. “Kita jarang punya restoran dengan nuansa seperti ini. Saya juga pasti ajak anak-anak makan di sini,” katanya sambil sesekali memandang sekeliling, seperti sedang membayangkan restoran ini menjadi titik temu banyak cerita ke depan.
Dalam percakapan singkatnya dengan Djafar – yang disapanya dengan panggilan penuh hormat, “Ka’e” – Yosef mengakui banyak hal yang baru diketahuinya tentang Ende.
Percakapan itu singkat, namun sarat makna, bagaikan benih yang ditanamkan untuk masa depan.
Kebersamaan yang Tak Lekang
“Pasukan berani mati Ka’e Djafar, sekarang adalah pasukan merah putihnya kami,” ujar Bupati Yosef dalam pidato yang memancing senyum para hadirin. Pernyataan itu bukan saja simbolik, tetapi juga penuh harapan, bahwa kolaborasi bukan hal yang mustahil, bahkan di antara para mantan kontestan Pilkada.
Di akhir acara, di tengah sorak syukur dan tepuk tangan hangat, terpatri satu pesan utama: Ende adalah rumah bersama. Dan seperti Restaurant Banyumas yang kini berdiri anggun di tengah kota, kota ini pun membutuhkan ruang-ruang dialog dan kolaborasi yang jujur, tulus, dan membumi.
Karena di meja makan itulah, perbedaan dilumerkan oleh rasa, dan masa depan dibicarakan dengan bahasa persaudaraan.
Penulis: Arnold Dewa
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.













