ENDE, Redaksi 76. Com,- Kepala Desa (Kades) Manulondo Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, Paternus Baghi mengakui, dirinyalah yang mengarahkan tim utusan Pemprov NTT (yang terdiri dari Herman Yosef Wadhi Cs, red) beberapa pekan lalu ke kediaman Tadeus Ngga selaku Kopokasa, seusai tim tersebut melakukan survei di Kajukanga Nuanelu, lokasi dimana akan dibangun situs perfilman Ria Rago.
Hal itu disampaikan Kades Manulondo, Paternus Baghi melalui pesan WhatssApp/WA kepada anggota tim media ini pada Selasa (22.07/2025).
“Sy (saya) kemarin menyampekan (menyampaikan) ktmu (ketemu) om Deus karena sebagai Kopokasa yg (yang) diakui oleh Mosalaki sekarang…Bukan keluarga keturunan Ria Ragho,“ tulis Paternus.
Kades Peternus menegaskan, dirinya bukan orang asing (dari Afrika, red) yang tidak tahu menahu soal film Ria Ragho dan keturunannya. Ia bahkan mengaku selaku Kades, dirinya pernah memfasilitasi seorang Pastor untuk bertemu keluarga yang akan membuat ulang (reborn) film tersebut, sehingga tidak mungkin dirinya melupakan keturunan Ria Rago.
Soal film Ria Ragho itu, Kades Peternus berjanji akan bertemu keluarga, yang merupakan keturunan langsung Ria Ragho. “Soal tugu film itu pasti akan ktmu (ketemu) keluarga yg (yang) sebagai keturunan langsung,“ tegasnya.
Seperti yang perna diberitakan tim media ini sebelumnya, Pemprov NTT diminta untuk tidak melupakan sejarah Ria Rago (pahlawan perempuan dari Lembah Ndona), terutama Keluarga (turunan langsung, red) dari Ria Rago dan peran gereja Katolik, khususnya Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini/SVD) selaku produser film Ria Rago, dalam pembangunan Situs Perfilman Ria Rago di Kajukanga,Nuanelu-Ndona, Kabupaten Ende.
Permintaan itu disampaikan Aktivis Gerakan Masyarakat Adat Nusa Bunga, Philipus Kami kepada media di Ende pada Rabu, 23 Juli 2025.

“Sebelum utusan Pemprov datang survei, semestinya duduk dulu dengan keluarga Ria Rago dan pihak SVD. Ini soal etika. Jangan sampai mereka yang punya peran besar justru dilangkahi,” ujarnya mengkritisi sikap Pemprov NTT.
Menurutnya, Ria Ragho bukan hanya tokoh film, tetapi juga simbol perjuangan perempuan yang menolak praktik kawin paksa yang saat itu dijunjung dalam hukum adat.
“Cerita ini memberi inspirasi bagi generasi kita. Nilainya besar. Karena itu, suara keluarga dan para pastor SVD harus didengar,” tambahnya.
Lipus menekankan bahwa ada tiga unsur penting dalam sejarah film ini: keluarga Ria Rago, para pastor SVD, dan Pemprov NTT. Ketiganya harus duduk bersama sebelum membuat kebijakan terkait warisan budaya tersebut.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














