Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Terjadi Krisis Literasi di Kalangan Pelajar dan Mahasiswa, Ketua FTBM NTT Minta Intervensi Lintas Sektor

Avatar photo
Ket. Foto: Penyiar RRI Ende Bersama Ketua FTBM NTT, Polikarpus Do. Sumber foto: RRI Ende.

Redaksi76.comKupang || Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menyoroti kondisi darurat literasi yang melanda pelajar dan mahasiswa di wilayah tersebut.

Tingkat minat baca yang kian merosot menjadi sorotan utama, menyusul temuan lapangan yang menunjukkan bahwa pencapaian literasi masih jauh dari target nasional.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Ketua FTBM NTT, Polikarpus Do, dalam pernyataan resmi pada program Florata Pagi Sabtu (20/09/2025), menyebut bahwa ketimpangan capaian literasi antarwilayah masih menganga lebar.

Kabupaten Ngada mencatat tingkat literasi tertinggi di kisaran 60 persen, sementara Sumba Barat Daya tertinggal jauh dengan capaian hanya sebesar 15 persen.

“Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar pelajar dan mahasiswa belum menjadikan membaca sebagai kebiasaan esensial dalam proses belajar. Ini merupakan sinyal krisis yang perlu ditanggapi secara serius oleh seluruh elemen masyarakat,” ujar Polikarpus.

Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap rendahnya tingkat literasi, menurut Polikarpus, adalah dampak lost learning selama masa pandemi COVID-19.

“Anak-anak yang mengalami kehilangan pembelajaran sejak jenjang sekolah dasar hingga menengah kini membawa beban tersebut hingga ke tingkat perguruan tinggi,”ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti peran teknologi digital yang berkembang pesat namun tidak diiringi dengan pendampingan yang memadai dari keluarga.

“Tanpa adanya regulasi jam belajar dan kesepakatan dalam keluarga, anak-anak cenderung menghabiskan waktu dengan gawai alih-alih membuka buku. Ini ancaman serius bagi masa depan generasi muda,” tegasnya.

FTBM NTT mendorong keterlibatan aktif para pendidik, mulai dari guru hingga dosen, dalam membangun ekosistem literasi yang sehat.
Polikarpus menekankan pentingnya keberadaan perpustakaan sebagai pusat literasi yang mudah diakses oleh siswa, mahasiswa, maupun masyarakat umum.

Baca Juga :  Perkuat Sinergi Global, Polda NTT Bersama Divhubinter Polri dan AFP Selenggarakan Asistensi BTNCLO dan Community Awareness

“Perpustakaan sekolah harus ditempatkan secara strategis, baik secara fisik maupun dalam sistem pembelajaran, agar dapat menjadi ruang terbuka bagi budaya baca. Di kampus, dosen harus menjadikan buku sebagai referensi utama, bukan hanya membiasakan mahasiswa mencari jawaban instan di internet,” jelasnya.

Sebagai bentuk komitmen terhadap peningkatan literasi, FTBM NTT kini tengah mengintensifkan program pendampingan literasi di berbagai sekolah, perguruan tinggi, serta komunitas masyarakat.

Salah satu program unggulan yang tengah digalakkan adalah Gerakan Sejuta Buku, yang bertujuan memperluas akses terhadap bahan bacaan berkualitas di seluruh pelosok NTT.

“Upaya peningkatan literasi bukan hanya tugas institusi pendidikan, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, orang tua, dan masyarakat sipil,” pungkas Polikarpus.

Dengan meningkatnya kesadaran dan kolaborasi lintas sektor, FTBM NTT berharap gerakan literasi tidak sekadar menjadi wacana, tetapi menjelma sebagai gerakan nyata yang menjawab tantangan generasi saat ini dan masa depan.

Reporter :Arnold Dewa

Sumber: RRI Ende

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung