Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Menaklukan Bukit Cadas Demi Pembangunan

Avatar photo

Ende,  Redaksi 76. Com,- Tidak dipungkiri sebagian besar jalan trans nasional di pulau Flores berada diatas punggung bukit dan memiliki ketinggian mencapai 20 meter serta banyak terdapat tikungan tajam dan badan jalan yang sempit.

Meski begitu pembangunan
infrastruktur terus berjalan. Masalah longsor dan penangannya menjadi rutinitas Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).

Kondisi jalan di Koramera setelah penanganan

Hal ini juga dialami Sanif, ST, MT, PPK 4.2 Satker Wilayah IV BPJN NTT yang menanangani ruas Ende – Wolowaru, Juction – Kelimutu. Ancaman longsor selalu ada di sepanjang ruas ini.

Ditemui diruang kerjanya, Selasa pekan lalu, Sanif mengungkapkan sebagai daerah yang kerap dilanda bencana khususnya longsor maka perlu penanganan pelebaran jalan sehingga di tahun 2025 ini, PPK bersama rekanan PT. Bina Citra Teknik Cahaya (BCTCH) melakukan pemotongan 3 (tiga ) titik longsor masing- masing
di KM 24, KM 56 dan KM 58.

Sementera di KM 57 tepatnya di kampung Lise Pu’u pihaknya tidak bisa melakukan pekerjaan pelebaran karena diatas bukit itu adalah tempat ritual masyarakat adat setempat.

“Jika tidak segera diatasi maka dikwatirkan jalan akan putus karena sepanjang ruas ini ancaman longsor selalu ada, dan jalan kita ini diatas punggung bukit pak “ tandasnya.

Sanif memiliki dua stategi mengatasi longsor yaitu dengan membuat trase baru di area longsoran dan perkuat area bahu jalan dengan tujuan sebagai lajur darurat dan atau menjahui area longsoran.

” Yang kita buat sekarang itu adalah menggeser trase menjahui area longsoran sehingga diharapkan kita dapatkan bidang datar yang lebih lebar. Untuk jangkah panjang ini sangat bagus. Kalau badan jalan kita sempit maka kita kesulitan berlalu lintas dan potensi untuk amblas itu semakin banyak, tetapi ketika bidang datar kita semakin lebar itu akan menambah perkuatan sehingga potensi untuk amblas itu semakin kecil ” tandas Sanif.

Menurut Sanif, membongkar tebing untuk pelebaran jalan melalui proses survei tehadap kondisi tanah, jenis batuan dan karakterisktik geologi tebing.

Pekerjaan pemotongan tebing di desa Dile kecamatan Detusoko

Hal ini penting untuk mengidetifikasi potensi longsor dan kerentanan stuktur apalagi ruas Ende – Wolowaru, berada diatas punggung bukit dan sempit sehingga ketika longsor menutup badan jalan maka aktivitas dijalan lumpuh.

“Sekarang ini tidak akan lagi terjadi karena kita sudah perlebar bidang datarnya sehingga kalaupun terjadi longsor tidak menutup jalan dan masih bisa dilewati karena material longsor hanya di bahu jalan saja. ” tandasnya menjelaskan.

Menurut Sanif, semakin banyak bidang datar maka manuvernya semakin enak dan jangka panjangnya sangat bagus dan tersedia area datar yang cukup untuk pembangunan badan jalan.

Yang dihadapi oleh Sanif, selain longsor tebing ada juga longsor jurang. Kondisi ini kata beliau harus segara diatasi jika tidak segera ditangani dikwatirkan jalan akan putus.

Dirinya mencoba mengusulkan penanganan darurat karena telah memperdiksi ada beberapa titik yang rawan longsor dan akan berpotensi menjadi bencana dan jika dimusim hujan dikwatirkan akan putus bila tidaknsegera mendapat penanganan.

Berbagai upaya yang dilalukan PPK.4.2 untuk meminimalisir ancaman longsor telah dilakukan dengan pekerjaan rutin, melakukan pembersihan saluran pasangan dan saluran tanah . Diruas yang terdapat beberapa titik longsor yang belum ditangani, telah disiapkan alat berat guna mengatisipasi jika sewaktu waktu terjadi longsor.

Diakui Sanif, seluruh pekerjaan Long Segment yang ditangani PT. BCTCH sudah sesuai desain namun terdapat perubahan-perubahan kecil akibat permintaan masyarakat setempat dan penyesuaian terhadap kondisi lapangan. (tef)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung