Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

ETMC 2025 Berhasil Menyatukan Eksekutif dan Legislatif Kabupaten Ende

Avatar photo
Dalam konferensi Pers Ketua Asprov Mengapresiasi Eksekutif dan Legislatif Ende Yang Kini Telah Membicarakan Anggaran ETMC 2025.istimewa

Redaksi76.com – Di balik semarak harapan masyarakat sepak bola Nusa Tenggara Timur, bayang-bayang ketidakpastian masih menyelimuti rencana perhelatan El Tari Memorial Cup (ETMC) 2025.

Meski sudah disepakati akan digelar di Kabupaten Ende, secercah keraguan tetap menggelayut: mungkinkah ajang bergengsi ini kembali dipindahkan ke Kupang?

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Ketua Asprov PSSI NTT, Chris Mboeik, mengungkapkan bahwa peluang ETMC tetap di Ende sangat besar bahkan mencapai 99,9 persen.

Namun, secuil angka 0,1 persen yang tersisa menjadi penentu. Bukan teknis, bukan dukungan publik, tapi kesepakatan politik: anggaran.

“Ya, 99,9 persen ETMC digelar di Ende. Tapi masih ada 0,1 persen yang butuh keseriusan dari Pemda dan DPRD,” tegas Chris dalam sebuah konferensi pers di Kupang, Jumat (15/8/2025).

Proses Panjang, Dukungan Kuat

Keputusan menunjuk Ende sebagai tuan rumah ETMC 2025 tidak datang tiba-tiba. Proses panjang dan diskusi intens mewarnai perjalanan itu.

Sebelumnya, ajang ini sempat dialihkan ke Kupang karena berbagai alasan, mulai dari kesiapan infrastruktur hingga pertimbangan anggaran.

Namun, gelombang dukungan dari berbagai elemen di Ende – mulai dari pemerintah daerah, DPRD, Askab PSSI Ende, hingga masyarakat – akhirnya membuat PSSI NTT membuka kembali peluang bagi Ende.

“Respon dari masyarakat luar biasa. Ini bukan sekadar turnamen, ini harga diri sepak bola daerah,” ucap Chris dengan semangat.

Tantangan: Ujian Harmoni Politik Lokal

Sayangnya, harapan itu masih diuji. Perselisihan internal antara DPRD dan Pemerintah Kabupaten Ende terkait anggaran menjadi ganjalan yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Jika kesepakatan tak tercapai, ETMC bisa saja kembali dipindahkan – dan semua kerja keras bisa sirna dalam sekejap.

Baca Juga :  "Langkah-Langkah Perempuan di Ujung Timur Negeri: Bergaya, Berkarya, Berdaya untuk Indonesia Merdeka"

“Kalau DPRD dan Pemda tidak sepakat soal anggaran, maka kita akan cari alternatif tempat lain. Liga 4 ETMC harus jalan karena ini agenda PSSI NTT,” ujarnya, dengan nada tegas.

Namun, ada titik terang. Dalam beberapa minggu terakhir, komunikasi antara dua lembaga tersebut mulai mencair.

Pertemuan demi pertemuan berlangsung, dan harapan kembali tumbuh. Chris bahkan menyampaikan apresiasinya kepada para pihak yang mulai menunjukkan sikap dewasa demi kemajuan olahraga.

Animo Masyarakat: Kekuatan yang Tak Terbantahkan

Di luar ruang-ruang rapat yang membahas anggaran, semangat masyarakat Ende terus menyala. Warung kopi, sekolah, hingga media sosial lokal ramai membicarakan ETMC. Bagi masyarakat, ini bukan sekadar pertandingan, tapi bagian dari identitas dan kebanggaan mereka.

“Apalagi ini di masa akhir kepemimpinan saya. Saya tidak berharap hal ini terjadi. Semoga ETMC tetap di Ende,” tutup Chris, seolah menitipkan pesan terakhir sebelum lengser dari jabatan.

Sebuah Turnamen, Banyak Harapan

ETMC bukan hanya ajang sepak bola. Ia adalah perayaan persatuan, bakat lokal, dan semangat kebersamaan di bumi Flobamora. Dan Ende, yang telah mengukir sejarah panjang dalam dunia olahraga NTT, kini berada di persimpangan jalan.

Apakah semangat itu cukup kuat untuk mengatasi tarik-menarik politik anggaran?

Hanya waktu – dan niat baik para pemangku kepentingan – yang bisa menjawabnya.

Penulis: Arnold Dewa

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung