Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Pemkab Kalah Perkara, Gedung Mangkrak DPRD Nagekeo Senilai Rp 10 Miliar Tak Bisa Dilanjutkan

Avatar photo

Wartawan berusaha mencari jalan alias akses masuk ke gedung tersebut. Namun wartawan kesulitan mendapatkan akses masuk karena gedung mangkrak ini telah dikelilingi oleh pepohonan liar dan tanaman semak belukar yang sangat rapat.

Bahkan ada tanaman belukar yang melata hingga ke dinding tembok lantai 2.
Setelah mengitari gedung mangkrak ini, terlihat ada semak yang bisa dilalui di bagian belakang gedung (sebelah timur, red).

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Wartawan turun dari mobil dan menerobos semak belukar di salah satu sudut gedung yang dindingnya terbuat dari batu bata merah itu.

Dari jarak sekitar 2 meter dari gedung, tampak gedung tersebut bak tenggelam sekitar 50 cm dari badan jalan dan bahu jalan.

Rapatnya pepohonan dan semak belukar di sekeliling gedung DPRD ‘Mangkrak’ Nagekeo tersebut, bahkan menutup cahaya matahari ke dalam gedung.

Bagian dalam gedung ini tampak gelap (walaupun di siang hari, red). Udaranya terasa basah dan pengab. Bau lumpur terhirup tajam.

Wartawan menyalakan senter handphone untuk menyinari bagian dalam gedung. Tampak lumpur tebal di seluruh lantai gedung. Lumpur basah itu tampak retak-retak bak lumpur di danau kering. Ada juga gundukan-gundukan tanah seperti sarang laron/semut hutan.

Di bagian tengah gedung (emperan tengah, red) tampak 2 batang pohon tumbuh subur. Bahkan 1 pohon diantaranya, batangnya sebesar pelukan orang dewasa. Tingginya melebihi atap gedung 3 lantai tersebut.

Wartawan mencoba menerobos masuk ke dalam gedung, namun terasa ada suasana yang tak nyaman. Bulu kuduk terasa berdiri. Bau lumpur dan udara yang basah seakan menyumbat pernapasan.
Namun tiba-tiba ada bunyi patahan kayu kering bak bunyi langkah kaki orang.

Baca Juga :  Rekanan Yang Mengerjakan Jalan Ndao - Nangaba Diapresiasi Masyarakat Dan Satker PJN IV NTT

Tim Wartawan memperhatikan keadaan sekeliling, mengira bunyi langkah kaki itu berasal dari rekan wartawan lain yang menyusul dari belakang. Namun tak ada orang lain di dalam gedung itu.

Bersamaan dengan itu tercium bau tanah yang menyengat. Bulu kuduk terasa berdiri, bahkan tubuh terasa merinding di tengah hari (sekitar Pukul 12.00 Wita).

Siapa pun yang masuk gedung ini akan merasakan aura negatif di dalam gedung makrak itu.

Menghadapi situasi itu, wartawan menghentikan langkah sejenak dan menarik napas. Wartawan pun memutuskan untuk tidak melanjutkan penelusuran di lantai 2 dan 3 gedung itu.

Setelah berbalik meninggalkan gedung itu, datanglah rekan wartawan yang sejak tadi sedang sibuk mengambil gambar gedung mangkrak itu dari jalan hotmix yang mengitari gedung itu.
Tim Wartawan pun mencoba mencari informasi dari warga sekitar tentang bangunan mangkrak tersebut. Informasi yang diperoleh, sebelumnya lokasi pembangunan gedung DPRD Mangkrak tersebut adalah sebuah danau alias rawa-rawa.
Danau yang menampung air hujan itu selalu penuh di setiap musim hujan.

Namun setelah dibangun drainase di lokasi perkantoran tersebut, air hujan dari daerah tersebut disalurkan ke Saluran Irigasi Mbay.
Karena lahan tempat pembangunan gedung tersebut bekas danau, maka permukaan gedung tersebut terus turun setiap tahun karena selalu tergenang air.

Akibatnya, air dan lumpur selalu menggenai lantai bawah gedung tersebut. (Brt.76/tim)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung