Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Pemprov NTT Diminta Tidak Lupakan Sejarah Ria Rago dan Peran SVD

Avatar photo

Redaksi 76. Com,-  Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta untuk tidak melupakan sejarah Ria Rago (pahlawan perempuan dari Lembah Ndona), terutama Keluarga (turunan langsung, red) dari Ria Rago dan peran gereja Katolik, khususnya Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini/SVD) selaku produser film Ria Rago, dalam pembangunan Situs Perfilman Ria Rago di Kajukanga, Nuanelu-Ndona, Kabupaten Ende.

Permintaan itu disampaikan Aktivis Gerakan Masyarakat Adat Nusa Bunga, Philipus Kami kepada media di Ende pada Rabu, 23 Juli 2025.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!
Philipus Kami

“Sebelum utusan Pemprov datang survei, semestinya duduk dulu dengan keluarga Ria Rago dan pihak SVD. Ini soal etika. Jangan sampai mereka yang punya peran besar justru dilangkahi,” ujarnya mengkritisi sikap Pemprov NTT.

Menurutnya, Ria Rago bukan hanya tokoh film, tetapi juga simbol perjuangan perempuan yang menolak praktik kawin paksa yang saat itu dijunjung dalam hukum adat.

“Cerita ini memberi inspirasi bagi generasi kita. Nilainya besar. Karena itu, suara keluarga dan para pastor SVD harus didengar,” tambahnya.

Lipus menekankan bahwa ada tiga unsur penting dalam sejarah film ini: keluarga Ria Rago, para pastor SVD, dan Pemprov NTT. Ketiganya harus duduk bersama sebelum membuat kebijakan terkait warisan budaya tersebut.

“Kalau tidak, akan muncul konflik. Pemerintah bisa dianggap mengabaikan hak-hak sejarah. Tanpa Ria Rago dan SVD, tidak akan ada kisah yang bisa kita wariskan. Jangan sampai sejarah ini dikaburkan atau sengaja dilupakan,” tegasnya.

Ia mengingatkan, situs perfilman yang direncanakan tidak akan berdiri tanpa kisah yang diciptakan keluarga Ria Rago dan dokumentasi para pastor SVD sejak 1923.

Baca Juga :  Status Tadeus Ngga’a Sebagai Kopokasa Adalah Ilegal Dan Tidak Sah

“Kalau dua pihak ini tidak diajak bicara, ini jadi kesalahan besar. Mereka adalah aktor utama yang punya hak moral dan historis,” tandasnya.

Lipus menyarankan agar Pemprov segera menemui pihak keluarga dan SVD untuk mendengar langsung cerita mereka.

“Ria Rago bisa kita kenal hari ini karena ada yang dokumentasikan. Jangan abaikan akar sejarah hanya karena proyek,” tegasnya.

Sementara itu, Herman Yoseph Wadhi, salah satu tim utusan Pemprov NTT (Gubernur NTT, Melkit Laka Lena, red) membantah tudingan bahwa pemerintah berniat mengabaikan sejarah Ria Rago dan peran SVD.

“Kami tidak punya niat menghapus sejarah. Kami bahkan sudah hubungi Kepala Desa Manulondo untuk memfasilitasi pertemuan dengan keluarga Ria Rago,” jelasnya via sambungan telepon.

Namun, rencana pertemuan itu tertunda karena kepala desa saat itu mengikuti agenda penyerahan hibah jalan. Meski begitu, menurut Heri Wadhi, upaya pendekatan tetap berjalan.

“Kami juga minta bantuan Martinus Tata, anggota DPRD Ende dari Golkar, untuk bantu fasilitasi pertemuan itu,” tambahnya.

Ia mengakui, saat survei dilakukan di Kajukanga Nuanelu, tim diarahkan oleh Kepala Desa Manulondo untuk mampir ke rumah Tadeus Ngga’a, warga setempat. Namun, pertemuan resmi dengan keluarga belum terealisasi karena kendala waktu.

Herman Yosef Wadhi

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung