Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Keluarga Dan Serikat Sabda Allah (SVD) Sesalkan Pembangunan Monumen Perfilman Ria Rago Tidak Dilibatkan

Avatar photo

Ia juga menyampaikan kemungkinan bahwa belum adanya penyampaian informasi kepada pihak-pihak terkait mungkin disebabkan oleh kesibukan tim perencana dari pemerintah daerah.

“Kami tetap mengedepankan asumsi positif. Mungkin pihak yang bersangkutan tengah disibukkan dengan beban kerja yang tinggi, sehingga komunikasi belum sempat terjalin,” pungkasnya.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Ria Rago adalah Pahlawan Wanita dari Lembah Ndona. Film ini disutradarai oleh Pater. Simon Buis SVD, dengan pemeran utamanya adalah : Ria Rago, Rago Da’oe, Dapo Doki, Hadji Dasa, Martinus Kunu Ndona, flores, katolik, pastor, etnografi.

Kisah kawin paksa ala Siti Nurbaya. Gadis Kristen Ria Rago dari desa Nua Nelu dipaksa nikah oleh orangtuanya sebagai istri kedua Dapo Doki, muslim dari desa Rada Wuwu, dengan mahar yang sangat tinggi. Ria menentang pernikahan ini, karena Dapo “kafir” dan sudah beristri.

Ria mengadu pada pastor setempat yang kemudian bersama katekisnya (guru agama) mengunjungi ayah Ria. Sia-sia. Setelah mahar disetujui Rago Da’oe dan istrinya tetap memaksa. Mereka mengikat Ria ke tiang rumah dan menyiksanya. Sang pastor dan katekisnya berdoa. Pastor menyuruh katekis membawakan salib ke Ria. Dengan menggenggam salib, Ria berhasil memutus tali pengikat tangannya saat keluarganya berpesta merayakan lamaran Dapo Doki. Ria lari ke susteran, yang merangkap asrama putri dan klinik pengobatan, dalam kondisi tubuh lemah. Ia dirawat.

Esoknya, dalam keadaan marah Rago Da’oe pergi ke Rada Wuwu, mengabarkan pelarian Ria, dan akan mengambilnya dari Susteran. “Tidak mungkin Rago. Kita harus menunggunya sampai Minggu sore saat para suster ada di gereja.” Bingung, Rago bertanya pada Nitu Pai (dewa). Pertandanya tidak baik, maka dia memberi persembahan pada Wula Ledja (matahari-bulan) dengan menyembelih seekor ayam dan memercikkan darahnya ke tempat pemujaan dan sekeliling desa.

Baca Juga :  Mosalaki Yang Berhak Mengangkat Kopokasa, Bukan Ata Laki

Hari Minggu jam empat sore saat misa berlangsung, Rago dkk bergerak. Susteran sepi. Agatha, gadis yang menjaga Ria lari lompat jendela ketika Rago dkk masuk. Ria digotong dengan sebilah bambu panjang dan di bawa pulang ke rumah. Agatha lapor suster tepat saat habis misa. Suster lapor pastor.

Di rumah, plester dan perban pembalut luka Ria dilucuti. Kaki dan rambut Ria diikat kembali ke tiang (kogo/pasung). Berbulan-bulan disiksa lagi. Ria minta salib yang jadi kekuatannya. Adiknya, Resi, mencela keras. Suster mengunjungi Ria di rumahnya. Rago marah dan mengusir suster sambil menyiksa Ria. Ria dipasung dan dipaksa melepas kepercayaannya.

Tiga bulan kemudian, Dapo berkunjung lagi. Ria tetap menolak. Suguhan minuman membuat Dapo mabuk dan merayu Ria lagi sambil melepas pasungan dan ikatan. Ria mendorong Dapo dan lari. Rago yang juga mabuk, terjatuh saat mengejar Ria hingga dipapah pulang. Ria berketetapan tidak akan nikah dengan Dapo. Dia jatuh kelelahan di depan rumah guru Pondaag. Keesokannya, ketika keluarga Pondaag pergi ke gereja, ia melihat Ria tergeletak. Mereka lalu memberi minum, memanggil pastor dkk, dan menandu ke susteran. Dokter dipanggil. Kondisinya parah. Sementara itu Rago juga tidak bisa tidur.

Ria dianjurkan menerima Sakramen Perminyakan (Terakhir). Rago kembali minta petunjuk Nitu Pai. Pertandanya buruk. Ria menerima sakramen terakhir, Rago mengembalikan mahar ke Dapo dan pergi ke pastor yang menganjurkan agar dia minta maaf pada Ria. Ria memaafkan dan nyawanya melayang. ( tim)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung