Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Hasil Kongres Dibatalkan Oleh Rapat Internal Pengurus, Djolan Rinda Desak PSSI Evaluasi ASPROV NTT dan ASKAB Ende

Avatar photo
Ket. Foto: Blasius Rinda Anggota TP2D Kabupaten Ende. Istimewa

Redaksi76.com Keputusan kontroversial Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Nusa Tenggara Timur (NTT) yang secara sepihak membatalkan Kabupaten Ende sebagai tuan rumah pelaksanaan turnamen El Tari Memorial Cup (ETMC) XXXIV tahun 2025, memicu gelombang protes dari berbagai elemen masyarakat.

Langkah Asprov PSSI NTT yang dilakukan melalui forum internal organisasi tersebut dinilai telah mencederai prinsip demokrasi serta bertentangan dengan hasil Kongres PSSI NTT yang sebelumnya secara resmi menetapkan Kabupaten Ende sebagai penyelenggara ETMC 2025.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Salah satu penolakan tegas disampaikan oleh Blasius Ausgarius Rinda, tokoh masyarakat Ende sekaligus anggota Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TP2D).

Dalam pernyataannya melalui sambungan telepon pada Jumat (25/7/2025), pria yang akrab disapa Djolan tersebut mengkritik keras keputusan Asprov yang dinilainya tidak berlandaskan mekanisme organisasi yang sah.

“Keputusan tersebut mencerminkan arogansi kelembagaan. Bila alasan pembatalan didasarkan pada efisiensi anggaran, maka seharusnya turnamen ditunda, bukan dialihkan ke daerah lain,”ujar Djolan tegas.

Lebih jauh, ia juga membantah narasi yang menyebut situasi sosial-politik di Kabupaten Ende tidak kondusif untuk menyelenggarakan event olahraga sebesar ETMC.

Menurutnya, hubungan antara eksekutif dan legislatif di daerah saat ini justru berada dalam kondisi harmonis dan produktif.

“Seluruh program pembangunan berjalan sesuai koridor. Tidak ada ketegangan politik ataupun dinamika ekstrem yang dapat dijadikan alasan pembatalan,” ungkapnya.

Djolan pun mendesak PSSI Pusat untuk segera turun tangan dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja serta kepatuhan struktural para pengurus Asprov PSSI NTT.

Ia menilai keputusan sepihak ini tidak hanya melukai harga diri masyarakat Ende, tetapi juga berpotensi meruntuhkan kredibilitas tata kelola organisasi sepak bola di tingkat regional.

Baca Juga :  Warga Minta Gubernur Laka Lena Anggarakan Kembali Penanganan Ruas Ndona - Sokoria (PLTP)

“Ini bukan sekadar soal turnamen, melainkan soal integritas dan penghormatan terhadap keputusan organisasi yang telah disepakati melalui kongres,” pungkasnya.

Situasi ini kini menjadi perhatian publik luas, di tengah harapan besar masyarakat NTT terhadap kemajuan sepak bola daerah yang inklusif, profesional, dan berkeadilan.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung