Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Erles Rereral: Hentikan Politik Dinasti, Suami dan Istri Berebut Kursi di Parlemen Adalah Penghinaan Terhadap Demokrasi

Avatar photo
Ket. Foto: Erles Rareral,S.H., M.H.istimewa

Redaksi76.comJakarta || Pengacara internasional sekaligus Direktur Hukum CIC Indonesia, Erles Rereral, S.H., M.H., kembali melontarkan kritik tajam terhadap maraknya praktik politik dinasti yang kian mencederai esensi demokrasi di Tanah Air.

Dalam pernyataan tegas yang disampaikannya di Jakarta, Erles menyoroti kecenderungan meningkatnya pasangan suami-istri, anak, hingga kerabat dekat yang secara bersamaan mencalonkan diri dalam kontestasi politik, baik di tingkat legislatif maupun eksekutif.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

“Bagaimana mungkin dalam satu rumah tangga, suami dan istri, atau orang tua dan anak, mengklaim mewakili suara rakyat secara independen? Ini bukan demokrasi, ini adalah monopoli kekuasaan dalam bingkai keluarga,” ujar Erles dengan nada geram.

Politik Dinasti: Praktik yang Mengkerdilkan Demokrasi

Erles mencontohkan sejumlah kasus yang terjadi di DPR RI, DPRD Provinsi, hingga DPRD Kabupaten/Kota, di mana beberapa anggota keluarga berlaga dalam satu daerah pemilihan. Menurutnya, fenomena tersebut tidak hanya mempersempit ruang regenerasi kepemimpinan, tetapi juga membuka jalan bagi konsolidasi kekuasaan dalam lingkaran sempit keluarga tertentu.

“Fenomena ini jelas merupakan pembajakan terhadap sistem demokrasi. Ketika kursi-kursi legislatif dikuasai oleh satu klan, maka rakyat kehilangan hak representasi yang sejati,” tambahnya.

Kritik terhadap Estafet Kekuasaan dalam Keluarga

Bukan hanya di legislatif, Erles juga menyoroti praktik serupa di sektor eksekutif. Ia menilai bahwa perpindahan kekuasaan dari seorang kepala daerah kepada anggota keluarganya—baik pasangan, anak, maupun kerabat—adalah bentuk lain dari penyalahgunaan mandat rakyat.

“Praktik estafet kekuasaan dalam satu keluarga harus dihentikan. Indonesia adalah negara besar, dipenuhi oleh sumber daya manusia yang cerdas dan berintegritas. Tidak seharusnya jabatan publik diwariskan layaknya pusaka keluarga,” tegasnya.

Baca Juga :  Khabar Gembira, Maskapai Baru Surya Airways Akan Melayani Penerbangan Domestik Di NTT

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung