Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Pascagempa Flores, YASPORA NTT Hadirkan Buku dan Dukungan Psikososial untuk Anak Nagekeo

Avatar photo
Reporter : Arnold Dewa Editor: Tim
Ket.Foto: YASPORA NTT Hadirkan Buku dan Dukungan Psikososial untuk Anak Nagekeo. Istimewa

Redaksi76.com || Nagekeo – Setelah gempa mengguncang Flores, anak-anak di sejumlah wilayah tidak hanya membutuhkan ruang yang aman untuk kembali belajar. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk perlahan memulihkan rasa aman, menjalani kembali rutinitas, dan tetap memiliki ruang untuk tumbuh.

Di SDI Butata, Desa Renduwawo, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, upaya itu dilakukan melalui dua bentuk dukungan yang berjalan berdampingan yakni menghadirkan kembali ruang belajar melalui bahan bacaan dan memberikan pendampingan psikososial bagi anak.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

YASPORA NTT bersama PKBM Bintang Floresta Nagekeo menyerahkan bantuan buku bacaan bermutu kepada SDI Butata, Kamis (24/9/2026). Dalam rangkaian kegiatan yang sama, 92 murid juga mendapatkan pendampingan Psychological First Aid (PFA).

Sebanyak 12 guru turut terlibat dalam kegiatan tersebut.

Bantuan buku dan PFA bukanlah hal yang sama. Keduanya memiliki tujuan berbeda. Buku menopang keberlanjutan pendidikan dan membantu anak kembali pada kebiasaan belajar.

Sementara PFA memberikan dukungan psikososial agar anak memiliki ruang yang aman dan suportif setelah menghadapi situasi bencana. Keduanya bertemu pada satu kebutuhan yang sama: membantu anak menjalani masa pemulihan secara lebih utuh.

Ketika Buku Menjaga Rutinitas Belajar

Ketua YASPORA NTT, Polikarpus Do, mengatakan buku dapat menjadi pintu bagi anak untuk mengenal dunia yang lebih luas.

“Bahan bacaan bermutu menjadi salah satu pintu bagi anak-anak untuk mengenal pengetahuan lebih luas. Kami berharap buku-buku ini benar-benar dimanfaatkan dan menjadi bagian dari kebiasaan membaca anak,” kata Polikarpus.

Menurutnya, minat baca tidak tumbuh dalam satu-dua hari. Anak membutuhkan bahan bacaan yang sesuai dengan usia dan kebutuhan mereka, menarik, serta mudah dijangkau. Karena itu, bantuan buku untuk SDI Butata diharapkan tidak sekadar menambah koleksi sekolah.

Baca Juga :  PAN Ende Solidkan Barisan, Bidik Lonjakan Kursi dan Wujudkan Target Besar Partai di Pemilu Mendatang

Buku-buku tersebut diharapkan hadir dalam keseharian murid—dibaca, digunakan dalam pembelajaran, dan menjadi bagian dari rutinitas mereka di sekolah.

Dalam situasi pascagempa, menjaga rutinitas semacam ini menjadi penting. Anak tetap membutuhkan kesempatan untuk belajar, membaca, bermain, dan berinteraksi dengan teman serta guru.

Buku, dalam konteks ini, bukan ditempatkan sebagai terapi psikologis. Ia merupakan bagian dari dukungan pendidikan yang membantu menjaga agar proses belajar anak tetap berjalan di tengah masa pemulihan.

Memberi Ruang bagi Anak untuk Pulih
Di sisi lain, kegiatan tersebut juga memberi perhatian pada kebutuhan psikososial anak melalui pendampingan PFA.

Ketua PKBM Bintang Floresta Nagekeo, Aloysius Mango, mengatakan dukungan kepada anak pascagempa tidak cukup hanya dengan memastikan kegiatan belajar kembali berlangsung.

“Kegiatan ini bukan hanya tentang memberikan buku, tetapi juga bagaimana kita bersama-sama memberikan ruang bagi anak untuk belajar, berkembang, dan mendapatkan dukungan secara psikososial,” kata Aloysius.

PFA menjadi bagian dari upaya tersebut. Pendampingan ini memberikan ruang bagi anak untuk memperoleh dukungan setelah mengalami situasi yang berpotensi menimbulkan tekanan, sekaligus membantu menciptakan suasana sekolah yang aman dan mendukung.

Dengan demikian, anak tidak hanya diposisikan sebagai penerima bantuan pendidikan, tetapi sebagai individu yang memiliki kebutuhan belajar sekaligus kebutuhan untuk merasa aman dan didukung.

Sekolah sebagai Ruang Pemulihan
Kepala SDI Butata, Philomena Wea, menyambut baik bantuan bahan bacaan tersebut. Menurutnya, kehadiran buku-buku tambahan dapat memperkaya sumber belajar sekaligus mendukung kegiatan literasi di sekolah.

“Kami menyampaikan terima kasih atas perhatian dan kepedulian YASPORA NTT. Bantuan bahan bacaan ini sangat berarti bagi sekolah dan anak-anak, terutama untuk mendukung kegiatan literasi,” ujar Philomena.

Ia berharap buku-buku tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para murid dan menjadi bagian dari kebiasaan belajar mereka.

Baca Juga :  Terkait Kapal Tongkang Yang Terdampar di Perairan Maurole, Karel Lando: Perusahaan Segera Ambil Tindakan

Lebih dari sekadar penyerahan buku, kegiatan di SDI Butata menunjukkan bahwa pemulihan anak pascagempa membutuhkan perhatian pada lebih dari satu sisi.

Ada kebutuhan untuk memastikan anak tetap belajar dan memiliki akses terhadap pengetahuan. Ada pula kebutuhan untuk memberikan ruang bagi mereka agar dapat menghadapi pengalaman bencana dengan dukungan yang memadai.

Di antara keduanya, sekolah memiliki posisi penting. Sekolah bukan hanya tempat anak memperoleh pelajaran, tetapi juga ruang tempat mereka kembali menemukan rutinitas, berinteraksi, bermain, dan membangun kembali rasa aman.

Melalui kolaborasi YASPORA NTT,
PKBM Bintang Floresta Nagekeo, dan SDI Butata, dukungan terhadap anak pascagempa diupayakan melalui pendekatan yang lebih menyeluruh: menjaga agar proses belajar tetap hidup, sekaligus memastikan kebutuhan psikososial anak mendapat perhatian.

Sebab, bagi anak-anak yang sedang melewati masa pemulihan, kembali membuka buku bukan hanya tentang membaca. Itu juga tentang kembali menjalani hari-hari sebagai anak—belajar, bermain, bertanya, bermimpi, dan perlahan melangkah maju.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung