Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Polikarpus Do: Peristiwa Anak di Ngada Jadi Alarm Ekosistem Pendidikan NTT

Avatar photo
Reporter : Arnold Dewa Editor: Tim
Ketua : Polikarpus Do, Forum TBM NTT. Istimewa

Redaksi76.com || Kupang — Peristiwa yang melibatkan seorang anak berusia 10 tahun, siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menuai keprihatinan luas dari berbagai kalangan.

Kejadian tersebut dinilai menjadi alarm serius bagi kondisi ekosistem pendidikan di wilayah tersebut.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) NTT, Polikarpus Do, menegaskan bahwa peristiwa ini merupakan refleksi kegagalan kolektif dalam membangun sistem pendidikan yang melibatkan seluruh unsur, mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat.

“Ini adalah kesedihan kita bersama. Kejadian ini menjadi cermin bahwa kita belum menjadikan ekosistem pendidikan sebagai gerakan kolektif,” ujar Polikarpus dalam keterangannya, Jumat, 06 Februari 2026

Menurut Polikarpus, tanggung jawab atas tumbuh kembang anak tidak dapat dibebankan semata kepada sekolah.

Keluarga dan lingkungan sosial memiliki peran yang sama penting dalam menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan anak.

Ia menekankan urgensi menghadirkan ruang-ruang literasi di tengah masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun generasi NTT yang literat dan berdaya saing.

“Kita ingin anak-anak NTT bertumbuh menjadi generasi literat. Mimpi besar kita adalah melahirkan generasi emas yang siap menyongsong masa depan Indonesia dan NTT,” katanya.

Sebagai Ketua Forum TBM NTT, Polikarpus juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap anak-anak yang terancam putus sekolah atau mengalami hambatan belajar, baik akibat keterbatasan ekonomi maupun persoalan fisik dan psikologis.

“Jika ada anak yang tidak sekolah, mari kita dorong dan advokasi. Jika minat belajarnya rendah, kita bangkitkan semangatnya. Ini adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Baca Juga :  Kampanye GEMAR IKAN: Wujud Nyata Komitmen Membangun Generasi Sehat dan Cerdas Melalui Konsumsi Ikan

Ia mengingatkan bahwa tantangan pendidikan di NTT masih sangat kompleks. Tidak sedikit anak yang terpaksa menghentikan pendidikan akibat faktor ekonomi, kondisi sosial, maupun minimnya dukungan lingkungan.

Oleh karena itu, Polikarpus menyerukan kebangkitan kesadaran moral dan sosial untuk menjadikan pendidikan sebagai gerakan bersama seluruh elemen masyarakat.

“Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus bersatu membangun ekosistem pendidikan yang literat agar anak-anak NTT dapat tumbuh dalam lingkungan yang mendukung cita-cita mereka,” pungkasnya.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung