Redaksi76.com – Di bawah langit malam Ende yang sunyi dan bertabur bintang, waktu seakan berhenti sesaat di Taman Renungan Bung Karno.
Tepat pukul 24.00 WITA, Sabtu (31/5/2025), derap langkah senyap para peserta upacara menggema pelan di tanah bersejarah tempat lahirnya butir-butir Pancasila.
Sebuah malam yang bukan sekadar ritual tahunan, melainkan perjumpaan batin dengan sejarah dan semangat kebangsaan.
Malam Renungan dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila ini dipimpin langsung oleh Kapolres Ende, AKBP I Gede Ngurah Joni Mahardika, S.H., S.I.K., M.H.
Ia berdiri tegap sebagai Pimpinan Acara, memimpin prosesi dengan penuh khidmat di taman yang pernah menjadi tempat perenungan Bung Karno selama masa pengasingan pada 1934–1938.
“Di tempat ini, Bung Karno menggali nilai-nilai yang kelak menjadi fondasi bangsa. Tugas kita hari ini adalah menjaga nyala api itu agar tidak padam,” ucap Kapolres Joni Mahardika dalam sambutan singkat namun sarat makna.
Malam yang hening itu dihadiri oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, jajaran Forkopimda Kabupaten Ende, tokoh agama, serta tamu undangan lainnya.
Seluruh peserta upacara berdiri dalam diam, mengenang perjuangan dan keteguhan sang Proklamator dalam merumuskan dasar negara di tengah sunyi dan pengasingan.
Bertugas sebagai Perwira Acara adalah Kabag SDM Polres Ende, AKP Amrin, sementara tanggung jawab sebagai Pemimpin Acara diemban oleh Kasihumas Polres Ende, Ipda Heru Sutaban. Keduanya memastikan seluruh rangkaian acara berjalan dengan tertib, sakral, dan menyentuh hati.
Barisan peserta upacara terdiri dari berbagai unsur. Mulai dari peleton gabungan Perwira TNI-Polri dan pimpinan OPD Kabupaten Ende, hingga personel dari Kodim 1602/Ende, Kompi Senapan C Ende, TNI AL, Brimob Kompi 3 Batalyon B Pelopor, Polres Ende, serta Satpol PP.
Ketika doa bersama dipanjatkan, kepala-kepala tertunduk, dan suasana menjadi begitu hening hingga desir angin malam pun terdengar.
Dalam keheningan itulah, para peserta larut dalam perenungan tentang arti Pancasila, bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi sebagai nilai hidup yang harus terus dijaga dan dihayati.
Taman Renungan Bung Karno malam itu bukan hanya menjadi saksi peringatan sejarah. Ia menjadi ruang spiritual bangsa untuk kembali pada akar perjuangan, mengingat bahwa Pancasila bukan hanya hasil pemikiran, tetapi buah kontemplasi dalam pengasingan dan penderitaan.
Acara ini menjadi pengingat bahwa bangsa besar tidak pernah lepas dari ingatan kolektif terhadap masa lalu. Dan di tanah Ende yang sunyi, sejarah tetap hidup—dalam doa, dalam diam, dalam semangat yang diwariskan oleh Bung Karno.
Reporter : Arnold Dewa
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.













