Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Festival Daun Lontar Ende Lio Teguhkan Komitmen Pelestarian Warisan Budaya dan Penguatan Ekonomi Kreatif

Avatar photo
Reporter : Arnold Dewa Editor: Tim
Ket.Foto: Kegiatan Festival Daun Lontar di Desa Kelitembu, Kabupaten Ende. Istimewa

Redaksi76.com|| Ende  – Semangat pelestarian budaya lokal kembali mengemuka melalui penyelenggaraan Festival Daun Lontar Ende Lio yang berlangsung di Lapangan Sepak Bola Desa Kelitembu, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.

Festival yang digagas oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Alokoja Sia bersama komunitas pegiat budaya Ende Lio tersebut menjadi ruang strategis untuk merawat identitas budaya sekaligus mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Ketua Panitia Festival, Yos Borgias Riga, menjelaskan bahwa kegiatan berlangsung selama enam hari, yakni pada 16–18 Maret 2026 dan dilanjutkan pada 18–20 Juni 2026.

Mengusung tema “Mengenang dan Melestarikan Warisan Budaya”, festival menghadirkan berbagai agenda edukatif dan kreatif, mulai dari lokakarya kerajinan daun lontar, lomba tari kreasi bertema lontar, kompetisi anyaman kreatif, hingga pameran karya para perajin lokal.

Menurut Yos, festival tersebut menjadi momentum penting untuk menampilkan sekaligus menghidupkan kembali beragam produk kerajinan tradisional berbahan daun lontar yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Ende Lio.

Berbagai hasil karya seperti topi, keranjang, bakul, ambung, gelang, cincin, anting, selendang, tempat tisu, tas, hingga dompet dipamerkan kepada masyarakat luas.

“Festival ini menunjukkan adanya semangat kolektif untuk menggali, menghidupkan, dan melestarikan warisan budaya leluhur. Harapannya, kecintaan terhadap budaya lokal dapat terus tumbuh dan menjadi inspirasi bagi generasi muda,” ujarnya saat penutupan festival, Sabtu (20/6/2026).

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan, termasuk Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Kabupaten Ende, Pemerintah Kecamatan Wewaria, pemerintah desa, lembaga pendidikan, tokoh adat, tokoh masyarakat, komunitas kerajinan, sanggar seni, serta masyarakat pecinta budaya.

Baca Juga :  SMK Negeri 1 Ende Rayakan HUT ke-60 dengan Serangkaian Kegiatan Edukatif, Kompetitif, dan Inspiratif

Sementara itu, Camat Wewaria, Fidelis Bela, menyatakan bahwa festival tersebut merupakan wujud nyata kecintaan masyarakat terhadap nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

“Festival ini mencerminkan semangat kolaborasi dan gotong royong dalam menjaga identitas budaya daerah. Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan yang terus dikembangkan dan diperkuat di masa mendatang,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Ende Yosef Benediktus Badeoda yang diwakili Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Ende Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Martinus Satban, memberikan apresiasi kepada seluruh panitia, pelaku seni budaya, pelaku UMKM, sponsor, aparat keamanan, pemerintah kecamatan dan desa, serta seluruh elemen masyarakat yang berkontribusi menyukseskan festival tersebut.

Menurut Martinus, Festival Daun Lontar tidak hanya menjadi agenda seremonial, melainkan juga ruang bersama untuk memperkuat jati diri masyarakat, menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya lokal, sekaligus mendorong kreativitas dan inovasi berbasis tradisi.

“Daun lontar memiliki posisi penting dalam sejarah dan kehidupan masyarakat Flores, khususnya Kabupaten Ende. Selain memiliki nilai ekonomi, lontar juga mengandung nilai budaya, sejarah, dan kearifan lokal yang menjadi simbol ketekunan serta kemandirian masyarakat,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Ende, lanjutnya, memandang festival tersebut sebagai instrumen penting dalam pelestarian budaya sekaligus penguatan ekonomi kreatif daerah.

Oleh karena itu, kegiatan serupa perlu terus didorong sebagai agenda tahunan yang terintegrasi dengan pengembangan sektor pariwisata.

Ia menegaskan bahwa pengembangan pariwisata berbasis budaya harus dilakukan secara promotif, berkelanjutan, dan memiliki daya saing, sehingga mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

“Keberhasilan sebuah festival tidak semata-mata diukur dari kemeriahan penyelenggaraannya, tetapi dari manfaat yang dirasakan masyarakat, seperti meningkatnya kunjungan wisata, berkembangnya industri kreatif, tumbuhnya ekonomi lokal, serta semakin kuatnya citra Kabupaten Ende sebagai daerah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal,” katanya.

Baca Juga :  DPD Partai NasDem Ende Salurkan 10.000 Masker untuk Warga Terdampak Erupsi Gunung Lewotobi

Pemerintah Kabupaten Ende, tambah Martinus, berkomitmen untuk terus mendukung berbagai program pelestarian budaya sebagai bagian integral dari pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Menutup sambutannya, ia mengajak generasi muda untuk terus merawat dan mencintai budaya daerah sebagai sumber inspirasi dalam berkarya dan berinovasi.

“Warisan leluhur harus menjadi fondasi dalam membangun masa depan. Kemajuan dapat diraih tanpa harus kehilangan identitas sebagai masyarakat Ende, Lio, maupun Nage,” ujarnya.

Penutupan Festival Daun Lontar Ende Lio ditandai dengan penabuhan gendang secara simbolis. Rangkaian acara juga diisi dengan penyerahan piagam penghargaan, sertifikat, dan uang pembinaan kepada para pemenang lomba.

Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang kegiatan, yang diakhiri dengan rekreasi bersama dan tarian tradisional Gawi sebagai simbol persatuan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung