Si ‘Kutu Busuk’ Mbay Telah Didandani Bupati Don Bosco Do

Namun masih tampak ratusan orang pengunjung/pembeli dan pedagang.
Di pelataran depan pasar (disisi barat terminal) tampak jejeran pedagang ayam pedaging dengan lapak-lapaknya.

Di bagian depan pasar, tampak berjejer Kios-Kios permanen yang dibangun oleh Pemkab Nagekeo. Puluhan orang tampak duduk di terminal yang tepat berada di depan Pasar Danga. Puluhan kendaraan tampak masuk-keluar terminal tersebut.

Sementara dipelataran tengah pasar, masih tampak keramaian pasar oleh para pedagang yang membuka lapak sementara di tengah pelataran pasar bagian barat. Mereka beratapkan terpal berwarna-warni yang ditonggak tiang bambu atau besi. Sementara alas yang digunakan beraneka macam. Ada yang menggunakan terpal, karung plastik dan kardus. Di lokasi ini tampak ratusan mobil Pick Up yang sibuk masuk-keluar mengangkut barang dagangan.

Pemandangan yang hampir sama juga terlihat di bagian tengah sisi timur pasar. Di lokasi ini tampak para pedagang dari berbagai desa sedang menjajakan berbagai macam sayur-mayur dan buah-buahan lokal. Tampak pula buah-buahan yang didatangkan dari luar Kabupaten Nagekeo.

Di atas alas tersebut, para pedagang menggelar aneka macam barang dagangannya. Ada aneka macam Sembako, makanan ringan, minuman, pakaian, topi, asesoris pakaian, dan berbagai macam kebutuhan lainnya. Sementara itu di los pasar bagian utara, tampak para pedagang menggelar kain tenun dan berbagai macam asesoris pakaian tradisional.

Hari Sabtu merupakan Hari Pasar Danga sehingga dikunjungi ribuan warga Mbay dan dari berbagai desa di Nagekeo. Namun tak area pasar masih tampak bersih. Hanya ada sedikit sampah yang bertebaran. Seorang petugas sampah Kabupaten Nagekeo yang tak mau ditulis namanya, ditemui wartawan di lokasi Pasar Danga.

Menurutnya, saat ini kebersihan pasar masih terjaga walaupun pada saat pasar di Hari Sabtu (pasar Mingguan, red). Namun ia kuatir di tahun depan akan kembali kotor karena sebagian besar dari 40 orang petugas kebersihan Pemkab Nagekeo akan diberhentikan karena tidak memenuhi syarat admistrasi, khususnya kualifikasi pendidikan.
Saya kemudian mencoba menelusuri setiap sudut pasar.

Hanya terlihat sedikit sampah di beberapa titik. Ada juga 2 titik berdiameter sekitar 1 m2 yang tampak berlumpur dan becek karena endapan lumpur yang dibawa air hujan. Titik pertama berada di depan pasar, tak jauh dari terminal. Sedangkan titik kedua berada di salah satu sudut gedung baru di sisi timur pasar.

Komarudin, seorang pedagang beras di Pasar Danga yang sempat ditemui wartawan menyatakan kegembiraannya dengan keadaan pasar saat ini yang lebih bersih dan teratur. “Dulu sekitar tahun 2019 ke bawah, kondisi pasar ini becek, bau, jorok dan kumuh. Dari pinggir jalan ini, Kita tidak bisa lihat ke tengah pasar karena terhalang oleh lapak-lapak darurat para pedang. Tapi pak bisa liat kondisi sekarang sudah bersih, tidak becek dan terang,” ujarnya sambil melayani pembeli.

 

Ia menjelaskan, awalnya Pak Bupati Nagekeo dan aparatnya menimbun lokasi di terminal yang becek dengan sirtu kali. “Tapi kemudian diminta oleh para pegadang agar bisa menimbun area di tengah pasar yang becek, berlumpur dan bau busuk. Makanya ditimbun seluruh area pasar ini dengan sirtu kali,” katanya.

Untuk penataan itu, para pedagang sempat dipindahkan ke beberapa lokasi di sekitar Pasar Danga. “Saya sempat dipindahkan di depan Polres. Tapi setelah ditata dan dibangun jalan hotmix yang lebar di tengah pasar ini, saya pindah kembali ke sini,” beber pedagang yang biasa disapa Komar.

Menurutnya, sebelum Pasar Danga ditata, ada los pasar yang sudah rusak dan tidak layak yang dibongkar. “Kalau malam gelap sekali. Jadi tempat tidak baik. Lantainya sudah hancur dan becek. Atap sengnya sudah berkarat. Los yang sudah dibangun dari tahun 80-an itu lalu dibongkar dan dibuat pelataran di tengah pasar,” jelas Komar.

Setelah menata area tengah pasar, lanjut Komar, Pemkab Nagekeo membangun dua los baru. “Los itu ada wc/kamar mandinya,” ujar Komar sambil menunjuk ke arah 2 unit los pasar yang berada di depan lapak berasnya. Tepat di sisi jalan tengah pasar tersebut.
Setiap hari Sabtu, kata Komar, pelataran itu dijadikan tempat membangun berjualan.

“Para pedagang boleh menjual dagangannya dengan membangun tenda darurat di pelataran tengah. Tapi hanya diijinkan pada hari Sabtu saja,” beber Komar.

Informasi yang dihimpun Tim Wartawan, penataan pasar berupa penimbunan sekitar 1.00 truck sirtu kali tersebut merupakan sumbangan dari para donatur yang dikoordinasi oleh Bupati Don Bosco Do beberapa bulan setelah dilantik.

Pembangunan 2 unit los pasar (sebagai pengganti los yang dibongkar, red) dengan nilai sekitar Rp 300 juta di lokasi tersebut, juga merupakan sumbangan para pengusaha dan donatur. (Brt 76/ tim)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung

Exit mobile version