Jembatan Emas Literasi dari Timur: Kolaborasi IMO-Indonesia dan FTBM NTT Demi Cerdaskan Bangsa

Ket. Foto: Ketua IMO dan Ketua FTBM Provinsi Nusa Tenggara Timur. Istimewa

Redaksi76.com – Di tengah derasnya arus informasi digital yang kadang tak berimbang, seberkas cahaya harapan muncul dari ruang pertemuan sederhana di sudut ibu kota.

Di sana, dua sosok yang punya gairah besar untuk mencerdaskan bangsa, Yakub Ismail dan Polikarpus Do, saling menjabat tangan. Bukan sekadar salam, tapi sebagai simbol dimulainya langkah besar bagi masa depan literasi Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur.

Yakub Ismail, Ketua Umum Ikatan Media Online (IMO)-Indonesia, dan Polikarpus Do, Ketua Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Provinsi NTT, yang akrab disapa Kae Poli, sepakat menjalin kolaborasi strategis demi memperkuat literasi di wilayah timur Indonesia yang selama ini kerap terpinggirkan dalam peta digitalisasi informasi nasional.

Misi Mulia dari Dunia Siber

Dengan suara penuh keyakinan, Yakub memaparkan bahwa IMO-Indonesia hadir bukan sekadar sebagai asosiasi media online, tetapi sebagai garda terdepan dalam menyuguhkan informasi yang adil, akurat, dan kredibel.

“Visi kami adalah mencerdaskan bangsa lewat pemberitaan berkualitas dan menjadi pemersatu kebinekaan. Di era digital yang sarat disinformasi, media online tidak boleh hanya jadi penonton. Ia harus jadi bagian dari solusi,” tegas Yakub.

Kolaborasi ini, lanjutnya, adalah bagian dari komitmen IMO-Indonesia untuk menembus batas-batas geografis dan sosial, menyampaikan informasi yang mencerahkan hingga ke pelosok negeri. “NTT adalah tanah yang kaya budaya, tapi juga punya tantangan besar dalam akses informasi. Di sinilah peran kami—menjadi jembatan pengetahuan,” imbuhnya.

Taman Baca: Oase Pengetahuan dari Timur

Di sisi lain, FTBM NTT telah lama menjadi motor penggerak literasi di wilayah timur Indonesia. Dari desa hingga pulau-pulau kecil, taman baca masyarakat hadir sebagai ruang aman dan inklusif bagi siapa saja yang ingin belajar dan bertumbuh.

Kae Poli menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperluas jangkauan program literasi.

“Kami tak bisa berjalan sendiri. Literasi adalah pekerjaan bersama, dan kami melihat IMO-Indonesia sebagai mitra strategis yang bisa menyuarakan gerakan literasi ke ranah yang lebih luas,” ucapnya.

Menurutnya, literasi bukan sekadar membaca buku, tapi bagaimana mengakses, memahami, dan memanfaatkan informasi secara bijak. Dan di tengah transformasi digital ini, kerja sama dengan media menjadi krusial.

Menyulam Harapan, Menyatukan Langkah

Dalam pertemuan itu, keduanya menyepakati sejumlah langkah konkret: pelatihan jurnalisme warga di taman baca, publikasi konten literasi lokal, penyebaran informasi edukatif yang relevan, hingga pelibatan komunitas dalam produksi berita berbasis kearifan lokal.

“Kolaborasi ini bukan hanya soal program, tapi soal menyulam harapan,” kata Yakub. “Kami ingin menjadikan media online sebagai ruang yang memanusiakan informasi, dan FTBM sebagai jantung literasi di masyarakat.”

Dari NTT untuk Indonesia

Langkah ini bisa jadi kecil di peta nasional, tetapi besar di hati mereka yang selama ini merasa terpinggirkan. Dari Timur, sebuah pesan dikirim ke seluruh penjuru negeri: bahwa literasi adalah jalan menuju kemerdekaan berpikir, dan setiap anak bangsa berhak mendapat akses yang setara untuk tumbuh dan berkembang.

Di tengah tantangan zaman, kolaborasi IMO-Indonesia dan FTBM NTT menjadi bukti bahwa ketika media dan masyarakat sipil berjalan bersama, yang mustahil pun bisa diwujudkan.

Dan dari sebuah pertemuan hangat di Jakarta, lahirlah sebuah jembatan emas—dari ruang baca kecil di pelosok NTT hingga layar-layar digital di seluruh Indonesia. Sebuah kolaborasi lintas batas untuk masa depan yang lebih terang.

Penulis : Arnold Dewa

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung

Exit mobile version