Oleh: Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA
Redaksi76.com – Peringkat ke-35 yang ditempati Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2024—hanya unggul dari tiga provinsi di Tanah Papua—bukanlah sekadar angka statistik semata, melainkan sebuah refleksi mendalam atas tantangan multidimensional yang dihadapi dalam upaya membangun kualitas sumber daya manusia.
Dengan skor IPM sebesar 67,90, yang jauh tertinggal dari rata-rata nasional 74,39, dan makin mencolok bila dibandingkan dengan DKI Jakarta (83,08) atau DI Yogyakarta (81,55), maka menjadi jelas bahwa pembangunan di NTT harus diredefinisi dengan menempatkan manusia sebagai titik sentralnya.
Sebagaimana saya sering ungkapkan, “Jalan boleh rusak, listrik boleh padam, tapi jika manusia dibangun dengan pendidikan, kesehatan, dan kejujuran, maka masa depan NTT akan tetap bercahaya.”
Pembangunan yang tidak bertumpu pada penguatan kapasitas manusia, pada akhirnya, hanya akan menciptakan kemajuan semu tanpa daya tahan jangka panjang.
1. Pendidikan: Fondasi yang Harus Diratakan
Salah satu akar persoalan IPM NTT yang rendah terletak pada belum meratanya akses dan kualitas pendidikan. Di banyak kawasan pedesaan dan kepulauan, pendidikan menengah dan tinggi masih menjadi kemewahan.
Angka putus sekolah pada jenjang SMP dan SMA masih tinggi, disebabkan keterbatasan ekonomi keluarga, infrastruktur pendidikan yang minim, dan distribusi tenaga pendidik yang tidak proporsional.
Di tengah tantangan geografis yang kompleks, solusi inovatif seperti pembelajaran digital, penguatan sekolah satelit, serta program beasiswa afirmatif bagi siswa miskin dan berprestasi menjadi krusial.
Peningkatan kompetensi dan redistribusi guru juga perlu didorong melalui program pelatihan berkelanjutan berbasis kebutuhan lokal.
Institusi pendidikan tinggi lokal seperti Universitas Flores harus menjadi katalisator perubahan, dengan memperluas jejaring kerja sama bersama lembaga nasional dan internasional, serta memperkuat kapasitas riset dan pengabdian masyarakat yang relevan dengan konteks lokal.
2. Kesehatan: Pilar Kemanusiaan yang Mendesak Diperkuat
Tingginya prevalensi stunting di NTT, yang termasuk tertinggi di Indonesia, menjadi indikator yang tak terbantahkan bahwa kualitas layanan kesehatan kita masih jauh dari ideal. Di banyak wilayah terpencil, akses terhadap fasilitas kesehatan dasar seperti puskesmas dan rumah sakit, serta ketersediaan tenaga medis, masih sangat terbatas.
Penanganan stunting membutuhkan pendekatan lintas sektor dan terintegrasi, mencakup pemberian asupan gizi, edukasi kesehatan bagi ibu hamil dan menyusui, penguatan posyandu, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sanitasi dan air bersih.
Pemerintah daerah perlu memperluas layanan kesehatan berbasis komunitas melalui puskesmas keliling dan telemedicine, sebagai upaya menjangkau kelompok marjinal di daerah terluar.
Namun, semua itu akan sia-sia tanpa reformasi tata kelola, khususnya dalam penanganan anggaran kesehatan. Pemberantasan praktik korupsi di institusi layanan publik seperti RSUD Ende harus menjadi prioritas utama.
Demikian pula, penataan menyeluruh terhadap PDAM Ende diperlukan guna memastikan hak dasar masyarakat atas air bersih terpenuhi secara layak dan berkeadilan.
3. Ekonomi dan Infrastruktur: Menjadikan Potensi sebagai Daya Saing
Secara ekonomi, kemiskinan struktural masih membayangi sebagian besar masyarakat NTT, termasuk Kabupaten Ende. Ketergantungan pada pertanian subsisten yang rendah produktivitas, ditambah infrastruktur ekonomi yang belum memadai, menyebabkan mobilitas dan pertumbuhan ekonomi stagnan.
Modernisasi pertanian berbasis teknologi tepat guna, penguatan koperasi petani dan UMKM lokal, serta pemanfaatan potensi wisata seperti Danau Kelimutu, budaya Lio, dan pesisir Ende harus menjadi prioritas pembangunan ekonomi daerah.
Pengembangan pariwisata perlu diiringi dengan perencanaan yang terukur, termasuk penetapan indikator kinerja (KPI) yang mengukur kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Sementara itu, pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan antar-desa, listrik desa, dan akses internet masih harus dipacu dengan pendekatan yang kontekstual. Pemanfaatan energi terbarukan—surya, angin, mikrohidro—di wilayah-wilayah terpencil menjadi solusi strategis yang tidak hanya ramah lingkungan, namun juga efisien secara jangka panjang.
4. Memperkuat Sinergi: Dari Pemerintah ke Masyarakat Sipil
Pemerintah daerah, dalam hal ini kepemimpinan Bupati Tote dan Wakil Bupati Domi Mere, memiliki tanggung jawab strategis untuk memastikan bahwa arah pembangunan tidak sekadar mengejar pertumbuhan fisik, namun menyentuh aspek paling fundamental: kualitas hidup manusia. Anggaran pembangunan harus difokuskan pada tiga sektor prioritas—pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi rakyat.
Lebih jauh, kemitraan strategis perlu diperluas. Kerja sama antara pemerintah dengan lembaga pendidikan, ormas keagamaan seperti Keuskupan Agung Ende (melalui YASUKEL), LSM lokal, serta pelaku usaha swasta, harus difasilitasi secara sistematis.
Model kolaborasi ini dapat diwujudkan dalam bentuk program beasiswa, pelatihan vokasi, pengembangan sekolah model, dan penguatan layanan sosial berbasis masyarakat.
Tak kalah penting adalah peran pers dan media lokal, yang bukan hanya menjadi kanal kritik konstruktif, tetapi juga sebagai agen penyebar narasi-narasi positif dan inspiratif. Komunikasi pembangunan yang strategis akan memperkuat kepercayaan publik dan memupuk partisipasi aktif warga dalam pembangunan.
Penutup: Menjadikan Manusia Sebagai Titik Nol Pembangunan
Rendahnya skor IPM NTT harus dipahami bukan sebagai aib, melainkan sebagai alarm moral bahwa pembangunan harus dikembalikan pada esensinya yang hakiki: membangun manusia.
Infrastruktur fisik, sebesar dan secanggih apapun, tidak akan memiliki makna jika manusianya tertinggal dalam pendidikan, sakit-sakitan, dan hidup dalam kemiskinan.
Sebagai putra daerah sekaligus pemerhati pembangunan, saya meyakini bahwa investasi terbesar dan paling berkelanjutan yang dapat dilakukan di NTT—dan khususnya di Flores, Lembata, dan Alor—adalah investasi pada manusia.
Dengan komitmen kepemimpinan yang kuat, tata kelola yang bersih dan transparan, serta sinergi lintas sektor, kita dapat membalikkan ketertinggalan menjadi lompatan.
NTT yang unggul tidak akan lahir dari batu dan beton, melainkan dari generasi yang cerdas, sehat, dan bermoral. Mari kita bangun masa depan itu bersama—mulai hari ini, mulai dari manusia.
Reporter: Tim
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
