Anak muda boleh melangkah jauh, tetapi jangan pernah meninggalkan adat dan kesantunan; sebab dari sopan santun tumbuh kepercayaan, dan dari kepercayaan lahir kepemimpinan.”
Dr. Ir. Karolus KARNI LANDO, MBA -CEO KRQA-SQC Certification Services
Redaksi76.com – Ada sesuatu yang menarik dari peristiwa yang terjadi di Alor. Bukan hanya soal hadirnya perhatian pemerintah pusat dan pemerintah provinsi, tetapi juga tentang bagaimana suara seorang anak muda mampu membuka pintu perhatian bagi masyarakatnya.
Dede—seorang mahasiswa yang bahkan baru memasuki semester pertama—telah menunjukkan sesuatu yang tidak selalu dimiliki oleh mereka yang sudah lama berkecimpung dalam dunia politik dan pemerintahan.
Kemampuan membaca situasi, memahami kepada siapa ia harus berbicara, kapan harus berbicara, dan bagaimana menyampaikan sebuah permohonan dengan hati.
Lobi Dede kepada Menteri Pertanian RI, Bapak Andi Amran Sulaiman akhirnya membuahkan hasil yang kemudian dirasakan oleh Masyarakat Alor. Kehadiran perhatian pemerintah pusat dalam waktu yang relatif cepat menunjukkan bahwa aspirasi yang disampaikan Dede tidak berhenti sebagai sebuah keluhan atau permintaan biasa.
Lebih dari itu, suara seorang mahasiswa muda ternyata mampu menggerakkan perhatian pemerintah.Bahkan, dinamika yang terjadi kemudian membuat perangkat pemerintah di Provinsi NTT ikut bergerak.
Wakil Gubernur NTT pun hadir di Alor di luar jadwal kunjungan yang telah direncanakan sebelumnya.
Ini tentu bukan sesuatu yang sederhana.
Para pemimpin daerah di Alor, para tokoh masyarakat, maupun orang-orang Alor yang telah lama berada di berbagai tempat di Indonesia tentu memiliki kapasitas dan jaringan masing-masing. Namun, peristiwa ini memberikan sebuah pelajaran penting.
Kadang-kadang bukan siapa yang paling tinggi jabatannya yang paling cepat didengar, tetapi siapa yang mampu menyampaikan suara rakyat dengan ketulusan dan cara yang tepat.
Dede datang bukan sebagai pejabat.
Ia bukan anggota DPR.
Ia bukan kepala daerah.
Ia bahkan baru seorang mahasiswa semester pertama.
Tetapi justru dari posisi itulah muncul sesuatu yang menarik. Ia berbicara tanpa membawa kepentingan jabatan. Ia menyampaikan permohonan dengan bahasa yang santun.
Ia memahami siapa yang sedang diajak berbicara. Dan yang paling penting, ia mampu menunjukkan bahwa apa yang disampaikannya berasal dari kepedulian terhadap masyarakat. Air mata yang keluar ketika menyampaikan aspirasi bukan sekadar air mata.
Bagi banyak orang, itu bisa menjadi simbol bahwa ada perasaan yang benar-benar hidup di dalam dirinya. Ada rasa sayang kepada masyarakat Alor. Ada kegelisahan melihat persoalan masyarakat. Dan ada keinginan agar pemerintah hadir memberikan solusi.
Seorang Menteri tentu sudah bertemu dengan begitu banyak orang. Setiap hari berbagai kelompok masyarakat, pejabat, pengusaha, politisi, tokoh daerah dan organisasi datang menyampaikan kepentingannya.
Karena itu, tidak mudah membuat seorang pejabat negara memberikan perhatian khusus terhadap sebuah permohonan.
Tetapi ketika seseorang datang dengan kesantunan, ketulusan, pemahaman budaya, dan keberanian menyampaikan apa yang dirasakan masyarakat, pesan itu bisa memiliki kekuatan yang berbeda.
Di sinilah Dede memberikan pelajaran penting.
MENGERTI KAPAN BERBICARA DAN KEPADA SIAPA BERBICARA
Kecerdasan seorang calon pemimpin bukan hanya diukur dari berapa banyak buku yang telah dibaca atau berapa tinggi pendidikan yang telah dicapai.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
