Meski Sudah 80 Tahun Merdeka, Akses Jalan Darat Bagi Warga Dua Desa di Ende Hanyalah Sebuah Mimpi

Foto Animasi Warga Yang Melakukan Trasportasi Menggunakan Perahu Akibat Tak Ada Akses Trasportasi Darat. Istimewa

Redaksi76.com Delapan puluh tahun kemerdekaan telah berlalu. Namun di ujung selatan Kabupaten Ende, di balik gemuruh ombak dan sunyi tebing-tebing curam, kemerdekaan itu belum benar-benar sampai. Ia seolah tertinggal di balik peta, menyisakan janji yang tak kunjung tiba.

Di Desa Nila dan Kekasewa, jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah harapan. Ia adalah kehidupan.

Sayangnya, harapan itu seperti pelangi di musim kemarau—terlihat, tapi tak pernah bisa disentuh.

Laut yang Menjadi Jalan

Setiap pagi, saat matahari baru saja menembus kabut di ufuk timur, beberapa warga sudah bersiap menantang laut. Perahu kayu menjadi tunggangan utama, menelusuri gelombang yang tak ramah, hanya untuk menjual hasil bumi atau mengakses layanan kesehatan.

“Merdeka? Kami hanya bisa merasakan itu lewat televisi,” ujar Tores, seorang warga Kekasewa, sambil menatap ke laut. “Karena kami masih harus bertaruh nyawa hanya untuk tiba di kota.”

Di desa-desa ini, tak ada aspal yang licin. Tak ada deru motor yang bebas melintas. Yang ada hanya langkah kaki yang letih dan suara ombak yang menggelegar, menjadi saksi bisu atas ketidakadilan pembangunan yang diwariskan dari satu rezim ke rezim berikutnya.

Rahim Pancasila, Tapi Lupa Janjinya

Ende, kota tempat lahirnya Pancasila, kini seperti lupa pada nilai-nilai yang pernah diperjuangkan. Persatuan dan keadilan sosial terasa mewah bagi masyarakat di ujung selatan. Ketimpangan seolah menjadi takdir yang diwariskan, bukan masalah yang dicari solusinya.

“Kami ini bagian dari rahim Pancasila. Tapi kok sepertinya kami bukan bagian dari pertumbuhannya?” tanya Alexsander Sado, Kepala Desa Nila, dengan nada getir.

Ia berharap, di bawah kepemimpinan Bupati Yoseph Benediktus Badeoda dan Wakil Bupati Dominikus Minggu Mere, janji perubahan yang diusung lewat tagline “Ende Baru” tak hanya menjadi kata-kata indah, tapi menjelma menjadi jalan nyata menuju keadilan infrastruktur.

Tangisan Ibu-Ibu yang Kehilangan

Dari balik cerita tentang jalan yang tak kunjung dibangun, ada luka yang lebih dalam: kehilangan.

“Tores” bercerita tentang ibu-ibu hamil yang harus meloncat dari tebing ke perahu demi menjangkau puskesmas atau rumah sakit. Tak sedikit yang akhirnya kehilangan janin mereka dalam perjalanan.

“Bukan karena sakit, tapi karena perjalanan itu sendiri. Terlalu berat. Terlalu berisiko,” katanya lirih.

Di tempat lain, seorang ibu bisa naik mobil menuju rumah sakit dengan aman. Di sini, ibu-ibu harus menantang maut. Hanya karena jalan darat belum dianggap penting oleh mereka yang punya kuasa.

Momen Merdeka, Tapi Siapa yang Merdeka?

Setiap tahun, bendera dikibarkan, lagu kebangsaan dinyanyikan, dan parade digelar. Tapi di selatan Ende, kemerdekaan dirayakan dengan cara lain – dengan harapan yang tetap menggantung, dan pertanyaan yang belum terjawab.

“Apakah kami tidak cukup Indonesia?” tanya Alexsander lirih.

Momentum delapan dekade kemerdekaan seharusnya bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi. Tentang siapa yang masih menunggu, siapa yang masih berjalan kaki menantang bukit, dan siapa yang masih hidup di negeri yang merdeka hanya dalam puisi.

Karena kemerdekaan, seperti kata Bung Karno, bukanlah akhir, tapi awal dari perjuangan panjang menuju keadilan sejati.

Dan bagi warga Desa Nila dan Kekasewa, perjuangan itu belum usai.

Penulis: Arnold Dewa

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung

Exit mobile version