Dari plat beton yang hancur di tangan tim media, tak terlihat 1 butir batu pecah. Campuran plat beton jembatan Raterunu 1 itu hanya menggunakan kerikil dari bulat (dengan besaran yang tak beraturan, red) dan pasir kali. Bahkan dari plat beton jembatan tersebut, tim wartawan melihat dan mengambil batu kali sebesar genggaman tangan orang dewasa hanya dengan 2 jari tangan.
Tim wartawan pun mengamati besi beton yang digunakan kontraktor. Ternyata kontraktor menggunakan besi beton 14 ulir dan menyisipkan besi beton 12 banci di bagian tengah plat beton jembatan. Padahal untuk konstruksi plat beton jembatan tersebut, seluruh besi beton yang digunakan harus besi 14 ulir.
Pagar jembatan di sisi utara pun tampak patah. Bahkan tak ada sisanya. Pipa besi pagar dan beton penyangganya pun telah tersapu banjir. Kondisi ini tentu saja sangat membahayakan masyarakat yang melintas karena jembatan tersebut bisa ambruk setiap saat ketika dilintasi kendaraan.
Sementara itu, bronjong pengaman jembatan di sisi selatan jembatan juga telah tersapu banjir. Hanya tampak beberapa meter yang masih tersisa. Dari batu bronjong yang tersisa, tampak mengunnakan batu kali berukuran sedang dan kecil.
Sedangkan di bagian utara jembatan, tampak timbunan/gundukan tanah dan pasir di kedua sisi kali untuk menormalisasi aliran air kali tersebut. Ketinggian gundukan tanah itu sekitar 2 meter dengan panjang sekitar 40 meter, membentang di kedua sisi kali.
Bentangan jembatan sangat rapuh dan hancur hanya dengan ujung jari tangan. Tampak tak ada batu pecah/agregat dalam campuran beton bentangan jembatan Raterunu 1. Yang tampak pada bentangan jembatan hanya pasir bercampur kerikil kali. Bahkan ada batu kali sebesar kepalan tangan orang dewasa di dalam bentangan jembatan.
Sementara itu, mantan Kepala Desa Tendakinde 3 periode, Ferdinandus Sadha yang ditemui Tim Media ini pada Kamis (1/12/22) mengungkapkan bahwa Jembatan ‘Miring’ Raterunu 1 di bangun oleh seorang Kontraktor Pelaksana dari Kabupaten Ende, Heng Kosmas dengan perusahaan CV. Anugerah Cipta Jaya. Ia menduga bangunan jembatan tersebut dikerjakan tidak sesuai dengan Spesifikasi Teknis (Spek) dan Bestek (syarat teknis bangunan, red).
Akibatnya, pondasi jembatan pada sisi barat ablas diterjang banjir sekitar 1 tahun setelah dibangun. Sehingga pondasi jembatan sisi timur ikut patah.
Akibatnya, badan jembatan miring ke arah barat. Batu-batu bronjong penahan bibir kali dan pondasi/abudmen jembatan pun tersapu banjir saat itu. Bahkan saat ini, telah ada 2 lubang menganga dengan diameter 50 cm dan 1 meter pada bentangan jembatan tersebut. (Brt.76/tim)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
