Berita  

Erosi Kali Loworea, Dinas PUPR NTT Dan Pemkab Ende Bangun Jalan Alternatif Di Wewaria

Krib sungai (groynes) kata Marthin Tallo, adalah struktur bangunan pengatur alur sungai yang dibangun menjorok dari tepi tebing ke arah tengah sungai. Fungsinya utama melindungi tebing sungai dan bahu jalan dari erosi (gerusan) arus deras, mengurangi kecepatan arus, mengendapkan sedimen, serta menjaga stabilitas lebar dan kedalaman alur sungai Loworea itu sendiri.

Desain penaganan alitrase sementara

“Kita akan bangun Krib untuk melindungi badan jalan dari gerusan lokal, memerangkap sedimen, dan mengarahkan arus agar tidak merusak tebing dan badan jalan.”ujarnya.

Seperti yang disaksikan media ini peninjuan lokasi kali ini, Kepala seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan Dinas PUPR NTT, Marthinus Tallo bersama Riki Nafi salah satu staf teknik, didampingi langsung oleh Kepala Dinas PU kabupaten Ende, Mustaqim M. Mberu, Camat Wewaria, Fidelis Bela, kepala desa Wewaria, Firmus Lise, toko masyarakat dan para pemilik lahan yang berdampak.

Usai tiba dilokasi tersebut, Marthin Tallo nampak serius mengamati pergerakan arus sungai yang telah mengikis habis bahu jalan propinsi itu. Pandanganya tertuju di DAS Loworea. Sesekali dirinya berdiri dan berdiskusi dengan kadis PU Ende, Mustakim Mberu dan camat Wewaria. Tiga pejabat ini nampak serius mengamati pergerakan arus sungai Loworea itu. Usai berdiskusi, nampak Marthin Tallo mengukur dan memilih menuruni tebing sungai untuk mengukur kedalam dan sedimentasi sungai, menentukan lokasi dan arah krib. Saat menuruni tebing sungai tersebut, Marthin Tallo sempat terpeleset hingga 10 meter dari tebi hingga ke bibir sungai.

“Pada keadaan normal ditengah sungai ini hanya air kosong namun saat banjir permukaan air nya akan naik hingga 2 meter dari permukaan jalan pak” tandas Marthin Tallo usai melakukan survei tersebut.

Sementara itu, kepala dinas PU kabupaten Ende, Mustakim Mberu, Camat Wewaria, Fidelis Bela dan kades berdiskusi dengan masyarakat pemilik lahan sekitarnya. Diskusi dengan suasana kekeluargaan itu membuahkan hasil. Masyarakat pemilik lahan mengijinkan lahan mereka digunakan untuk altrase sementara.

Langkah cepat ini menunjukkan kolaborasi antara Gubernur NTT, Melki Laka Lena dan wagub Jhoni Asadoma Bupati Ende Yosef Badeoda dan masyarakat dalam menjaga konektivitas dan mempercepat pemulihan infrastruktur di kabupaten Ende.(tef)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung

Exit mobile version