Oeh: Is Sofian
Alam seringkali menyimpan rahasianya di tempat yang paling jarang tersentuh oleh bisingnya peradaban modern. Di bagian utara Kabupaten Ende propinsi Nusa Tenggara Timur misalnya. Di kabupaten tempat pembuangan Presiden RI pertama, Bung Karno yaitu di Nanga Niki desa Loboniki kecamatan Kotabaru, terdapat sebuah mahakarya spasial yang seolah dilukis oleh jemari magis semesta yaitu Nanga Niki.
Bagi para pemuja sunyi dan pencari lanskap yang tak biasa, bukit ini bukan sekadar tonjolan geografis di peta Flores. Nanga Niki, adalah sebuah bait puisi yang mewujud nyata, sebuah ruang kontemplatif tempat batas antara langit, daratan, bernuansa emas, dan laut biru yang pekat melebur menjadi satu simfoni visual yang utuh.
Melangkah menuju Nanga Niki adalah sebuah ritus perjalanan yang menuntut ketabahan. Jarak tempuh kurang lebih seratus kilometer dari riuh pusat kota Ende bukanlah bentangan aspal yang mudah, melainkan sebuah ziarah melintasi lekuk-lekuk topografi yang menantang.
Namun, perjalanan panjang ini adalah sebuah transisi batin yang diperlukan. Sepanjang jalan, mata penjelajah akan disuguhi fragmen-fragmen kehidupan rural Flores yang bersahaja, sebelum akhirnya disambut oleh keagungan pantai Nanga Niki yang berdiri kokoh bak penjaga takhta di pesisir utara.
Ketika kaki pertama kali menapak di punggung wisata alam Nanga Niki impresi pertama yang kaan menyergap kesadaran adalah kontras warna yang begitu dramatis. Nanga Niki adalah seuntai paradoks yang memesona. Pada musim-musim tertentu, bukit ini menyelimuti dirinya dengan gaun savana berwarna kuning keemasan yang gersang namun eksotis.
Rumput-rumput kering itu bergoyang ritmis ditiup angin laut, melahirkan melodi liris yang menenangkan jiwa yang penat. Keberadaan savana yang meranggas ini tidak memancarkan aura kematian, melainkan sebuah elegi estetis tentang ketahanan hidup di tanah fana. Namun, pesona sejati dari altar tinggi ini terletak pada cara ia memandang dunia di bawahnya.
Dari puncak Nanga Niki cakrawala seolah terbuka lebar tanpa sekat. Di satu sisi, mata akan terpaku pada lanskap Teluk Ndondo yang meliuk anggun, membentuk kurva sempurna yang memisahkan daratan dan lautan. Air lautnya yang jernih menampilkan gradasi warna murni, mulai dari hijau toska yang lembut di dekat pesisir Pantai Bele, hingga biru safir yang pekat di bagian laut yang dalam.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
