Tak lama kemudian datang mobil pick up melintas dari arah timur ke arah barat jembatan. Sopir pick berusaha melakukan sedikit trik memutar untuk menghindari 2 lubang yang mengangga itu. Satu lubang berdiameter sekitar 1 meter. Dan lubang lainnya berdiameter sekitar 50 cm.
Menurut Arnol yang juga warga setempat, Jembatan Raterunu yang dikerjakan itu patah dan miring setelah setahun dikerjakan.
“Setelah selesai kerja, masuk musim hujan dan banjir, jembatan langsung patah. Hanya sekitar 1 tahun sudah patah,” ungkapnya.
Ia menduga pekerjaan jembatan tersebut tidak sesuai dengan Spek dan Bestek yang tertera dalam kontrak pembangunan jembatan tersebut. “Kami ini orang tidak mengerti Pak, tapi kalau baru satu tahun langsung patah dan miring, yah pasti tidak sesuai dengan syarat yang seharusnya dikerjakan,” ujarnya.
Tak lama kemudian melintas lagi 1 unit dump truck. Sang sopir pun menghentikan kendaraannya tak jauh dari jembatan dan turun menemui tim wartawan yang berusaha mengamati kondisi jembatan hanya dengan bantuan senter dari handphone.
Tampak ada dua lubang diplat jembatan. Besi beton jembatan terlihat dengan jelas. Sementara pagar jembatan sisi selatan pun telah patah. Namun karena gelap, Tim Wartawan tak dapat melihat kondisi pondasi/abudmen jembatan.
“Pak lihat saja betonnya, bisa hancur begini hanya dengan jari tangan. Ini kerja macam apa. Saya yang tidak mengerti pekerjaan jembatan pun pasti tahu bahwa ini tidak kuat,” ujarnya sambil menghancurkan plat beton jembatan dengan jari-jari tangannya.
Ia mengaku heran dan kesal dengan kondisi jembatan tersebut. “Beton rumah saja tidak mungkin hancur begini pak. Kok jembatan yang dilalui oleh kendaraan setiap hari bisa tidak kuat seperti ini. Ini membahayakan masyarakat yang melintas di jembatan ini. Banjir tahun ini pasti plat jembatan ini sudah habis dikikis banjir,” ujarnya dengan nada kesal.
Hal sedana juga dikatakan seorang sopir truck, Hendrik juga mengatakan hal yang sama. Ia juga bermukim tak jauh dari lokasi jembatan.
“Jembatan ini sudah lama patah Pak. Sekitar 1 tahun setelah dibangun sudah patah dan miring,” ujarnya.
Ia mengaku memiliki kebun di sisi selatan jembatan. “Setiap tahun sering banjir dan meluap hingga badan jembatan Pak. Setelah membuat jembatan (bronjong pengaman jembatan, red), kali menjadi sempit sehingga airnya tertahan dan meluap menggenangi kebun kami,” bebernya.
Sempat terjadi antrian karena sopir kendaraan roda 4 dan roda 6 yang melintas di atas jembatan tersebut harus ekstra hati untuk menghindari dua lubang yang menganga di jembatan itu. Karena suasana yang gelap membuat Tim Wartawan tak dapat melihat kondisi jembatan yang sebenarnya maka diputuskan untuk kembali ke lokasi jembatan tersebut esok harinya, Rabu (23/11/22). (Brt.76/tim)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
