Menyalakan Terang di Kota Pancasila: Kisah Lilin Paskah dari Polres Ende

Reporter : Arnold Dewa Editor: Tim
Ket.Foto: Waka Polres Ende Bersama Sejumlah Anggota, Serahkan Lilin Paskah di Istana Keuskupan Agung Ende. Istimewa

Redaksi76.com Siang itu, matahari menggantung tenang di langit Kota Ende. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas warga, sekelompok aparat berseragam cokelat bergerak menyusuri jalan-jalan kota.

Namun langkah mereka bukan untuk penegakan hukum, melainkan membawa pesan sederhana yang sarat makna: terang.

Menjelang perayaan Paskah 2026, Kepolisian Resor Ende memilih cara yang berbeda untuk hadir di tengah masyarakat.

Bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga merawat rasa—melalui penyerahan lilin Paskah ke delapan paroki dan Keuskupan Agung Ende.

Dipimpin Wakapolres Ende, Kompol Ahmad, rombongan memulai perjalanan pada Senin siang itu. Dari satu gereja ke gereja lain, lilin-lilin dibagikan—bukan sekadar benda, melainkan simbol harapan, damai, dan kebersamaan.

Perhentian pertama di Keuskupan Agung Ende menjadi momen yang hangat. Di sana, lilin diterima oleh RD. Efraem Pea. Ia menyambut rombongan dengan senyum dan rasa syukur yang tak disembunyikan.

Baginya, kehadiran polisi bukan hanya soal pengamanan, tetapi juga kehadiran yang menenangkan.

“Perayaan keagamaan seperti ini bukan lagi milik satu kelompok saja, tapi milik bersama,” ujarnya pelan, menegaskan makna toleransi yang hidup di tanah Ende.

Ia kemudian memandang lilin yang baru saja diterimanya. Dalam cahaya kecil itu, ia melihat sesuatu yang lebih besar: harapan.

Harapan agar aparat kepolisian terus menjadi terang bagi masyarakat—menghadirkan kebaikan di tengah berbagai tantangan.

Perjalanan berlanjut. Di Paroki Santo Yoseph Mautapaga, suasana tak kalah hangat. Pastor Giovani Don Bosco Seso menyambut dengan penuh rasa syukur.

Baginya, lilin bukan sekadar bagian dari liturgi, tetapi pengingat akan panggilan bersama sebagai pembawa terang.

“Ini tanda perdamaian, tanda cinta, dan tanda berkat,” ucapnya.

Di tengah suasana yang akrab, terselip rasa haru. Kehadiran aparat kepolisian memberi keyakinan bahwa umat tidak berjalan sendiri dalam merayakan iman mereka.

Ada rasa aman yang tumbuh—bahwa setiap prosesi Pekan Suci akan berlangsung dalam perlindungan.

Dari Roworeke hingga Bhoanawa, dari katedral hingga kuasi paroki, pesan yang sama bergema: kebersamaan masih terjaga, toleransi masih hidup.

Bagi masyarakat Ende, aksi ini bukan hal besar dalam bentuk, tetapi besar dalam makna. Di tengah dunia yang kerap diramaikan perbedaan, sebuah lilin kecil justru mampu menjadi jembatan.

Kompol Ahmad menyadari hal itu. Di sela kegiatan, ia menegaskan bahwa peran kepolisian tidak berhenti pada keamanan fisik.

“Kami ingin hadir juga secara moral dan spiritual, mendukung masyarakat yang merayakan hari besar keagamaannya,” ujarnya.

Menjelang sore, perjalanan itu pun usai. Lilin-lilin telah berpindah tangan, namun pesan yang dibawanya tetap menyala: tentang persaudaraan, tentang kehadiran, dan tentang harapan.

Di Kota Ende—yang kerap disebut sebagai Kota Pancasila—terang itu tidak hanya bersumber dari altar gereja.

Ia juga lahir dari langkah-langkah kecil, dari niat baik, dan dari perjumpaan sederhana antara aparat dan umat.
Dan mungkin, seperti yang diharapkan banyak orang hari itu, terang itu akan terus menyala—jauh melampaui Paskah.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung

Exit mobile version