Redaksi76.com – Di bawah langit cerah wilayah utara Kabupaten Ende, deretan pohon lontar berdiri tegak—seolah menjadi saksi bisu perjalanan panjang budaya yang nyaris terlupakan.
Namun, pada pertengahan Maret 2026, suasana di Desa Kelitembu berubah. Tangan-tangan muda mulai kembali menyentuh daun lontar, menganyam harapan baru bagi tradisi lama yang hampir pudar.
Festival Daun Lontar yang digelar selama tiga hari itu bukan sekadar perayaan. Ia adalah ruang pertemuan antara warisan leluhur dan semangat generasi masa kini.
Diinisiasi oleh Yohanes Borgias Riga, penerima manfaat Program Indonesiana, festival ini menghadirkan sekitar 200 peserta—mulai dari pelajar hingga komunitas masyarakat—yang datang dengan satu tujuan: menghidupkan kembali nilai dari sehelai daun lontar.
Di tengah riuh aktivitas, terlihat para pelajar dengan penuh konsentrasi mengikuti workshop. Mereka belajar mengolah daun lontar menjadi berbagai bentuk kerajinan—dari anyaman sederhana hingga produk kreatif yang memiliki nilai jual.
Bagi sebagian dari mereka, ini adalah pengalaman pertama. Namun, di balik keterbatasan teknik, tersimpan rasa bangga saat menyadari bahwa apa yang mereka buat adalah bagian dari identitas daerah mereka sendiri.
“Selama ini kita melihat lontar hanya sebagai bagian dari alam yang biasa saja. Padahal, di dalamnya ada potensi besar,” ujar Borgias,
menggambarkan semangat yang ingin ia tularkan.
Ia percaya bahwa kreativitas bisa menjadi jembatan antara pelestarian budaya dan peningkatan ekonomi masyarakat.
Wilayah Kecamatan Wewaria memang dikenal memiliki sumber daya pohon lontar yang melimpah. Ironisnya, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.
Melalui festival ini, masyarakat diajak untuk melihat kembali kekayaan lokal dengan perspektif baru—bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan, melainkan bisa dikembangkan menjadi peluang ekonomi kreatif.
Salah satu peserta, Kristianus Eka Kopo, merasakan perubahan cara pandang itu. Baginya, festival ini bukan hanya tentang belajar membuat kerajinan, tetapi juga tentang membangun keberanian.
Para peserta didorong untuk mempresentasikan hasil karya mereka di depan publik—sebuah proses yang melatih rasa percaya diri sekaligus tanggung jawab atas karya yang dihasilkan.
Dukungan pun datang dari pemerintah setempat.
Camat Wewaria, Fidelis Bela, menyebut festival ini sebagai langkah strategis dalam menjaga warisan budaya sekaligus menggerakkan ekonomi berbasis kearifan lokal. Ia berharap inisiatif serupa dapat terus berlanjut dan berkembang.
Namun, festival ini tidak berhenti pada seremoni semata. Setelah pelatihan, para peserta diberi waktu dua bulan untuk mengembangkan produk mereka.
Hasilnya akan dipresentasikan kembali dalam rangkaian kegiatan pada Mei mendatang—mulai dari pameran hingga lomba kreasi berbasis daun lontar.
Lebih dari sekadar kegiatan, Festival Daun Lontar menjadi simbol kebangkitan.
Ia mengajarkan bahwa di tengah arus modernisasi, akar budaya tetap bisa tumbuh—asal dirawat dengan kesadaran dan kreativitas.
Di tangan generasi muda Nusa Tenggara Timur, daun lontar kini bukan lagi sekadar daun. Ia menjelma menjadi harapan—tentang masa depan di mana tradisi dan inovasi berjalan beriringan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
