Redaksi76.com – Di atas sebidang tanah yang diam-diam menyimpan mata air, harapan itu tumbuh perlahan. Tidak mencolok, tidak megah, tetapi mengalir—seperti air yang tak pernah lelah memberi kehidupan.
Di sanalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bintang Flobamora berdiri. Tempat ini bukan sekadar ruang belajar, Ia adalah persinggahan bagi mereka yang sempat tersisih.
Anak-anak yang pernah jatuh dari jalur pendidikan formal menemukan jalan pulang di sini—tanpa biaya, tanpa stigma, tanpa syarat yang memberatkan.
Di PKBM Bintang Flobamora, pendidikan tidak lagi terasa jauh atau mahal. Ia hadir sebagai hak yang dipulihkan. Yang ditawarkan bukan hanya ijazah. Ada sesuatu yang lebih dalam yaitu ruang aman.
Pagi itu, Senin (16/3/2026), suasana terasa berbeda. Halaman PKBM lebih hidup dari biasanya. Tawa, diskusi, dan sorot mata penuh rasa ingin tahu saling bersahutan dalam sebuah workshop yang mengangkat tema penting—pencegahan kekerasan terhadap anak.
Topik yang mungkin terasa berat, tetapi justru sangat dekat dengan kehidupan mereka.
Ketua PKBM Bintang Flobamora, Polikarpus Do, berdiri di hadapan para siswa dengan nada suara yang tegas namun hangat. Baginya, pendidikan bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga tentang melindungi diri dan sesama.
“Anak-anak di sini harus tahu bagaimana mencegah kekerasan. Kalau tidak bisa menghentikan, setidaknya mereka bisa menjadi jembatan informasi,” ujarnya.
Ada kegelisahan dalam kalimatnya—sebuah kesadaran bahwa dunia di luar sana tidak selalu ramah bagi anak-anak. Polikarpus memiliki cara sendiri dalam memaknai tempat ini.
Ia sering bercerita bahwa sekolah ini berdiri tepat di atas sumber mata air. Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar fakta geografis. Namun baginya, itu adalah simbol.
Air yang terus mengalir tanpa memilih siapa yang akan disegarkan.
Ia ingin PKBM ini menjadi seperti itu—memberi kehidupan, menghapus dahaga, dan menghadirkan kesejukan bagi siapa saja yang datang, terutama mereka yang selama ini terpinggirkan.
Semangat para siswa semakin menyala saat seorang tokoh pendidikan NTT, Agung Hermanus Riwu, hadir memberi motivasi.
Ia tidak datang membawa teori rumit. Ia membawa cerita—tentang kemungkinan.
Tentang bagaimana hidup tidak selalu berjalan lurus, dan bagaimana kegagalan bukanlah garis akhir.
Di hadapan para siswa, ia menyebut dua nama yang mengundang keheningan sekaligus harapan.
Andi F. Noya—figur publik yang dikenal luas karena kecerdasannya—pernah berada di titik yang sama: putus sekolah.
Lalu ada Gol A Gong, seorang penulis produktif yang kehilangan satu tangannya, tetapi tidak kehilangan semangatnya. Dengan keterbatasan itu, ia justru melahirkan ratusan karya.
Cerita-cerita itu seperti membuka jendela.
Bahwa masa lalu bukan penentu masa depan. Bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti.
Di PKBM Bintang Flobamora, perubahan tidak selalu terlihat dalam bentuk besar. Ia hadir dalam hal-hal sederhana: keberanian untuk kembali belajar, kepercayaan diri yang tumbuh perlahan, dan harapan yang mulai berani disebutkan dengan lantang.
Di atas mata air yang tenang itu, mimpi-mimpi kecil sedang dirawat.
Dan seperti air yang mengalir tanpa henti, harapan dari tempat ini pun terus bergerak—menyusuri celah-celah kehidupan, membawa kemungkinan baru bagi anak-anak Nusa Tenggara Timur. Karena terkadang, perubahan besar memang lahir dari tempat yang sunyi.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
