“Saya mengutuk para pihak yang sudah mengadu domba kami, uang yang kami berikan saat itu adalah sumbangan sukarela sebagai penghargaan kepada pemilik lahan dan untuk biaya makan minum bersama para tamu dari desa tetangga dan warga Ondorea Barat sendiri sebagai Mosalaki, saya tidak keberatan dan itu hal yang positif “ tandasnya.
Sebagai tuan rumah, Mosalaki Urbanus menekanan bahwa warga desa Ondorea Barat wajib menyuguhan makanan bagi para tamu yang datang dari desa tetangga saat peresmian tersebut.
Dana yang diberikan itu dilakukan secara sukarela. Pemerintah lanjutnya, tidak menyiapakan anggaran untuk pembebasan lahan dan biaya makan minum bagi para tamu saat acara persemian itu, sehingga kepala desa berinsiatif menyampikan hal itu kepada warga dan tokoh adat untuk agar sekiranya dapat memberikan sumbangan Rp 100.000 /KK.
“Saat itu pemilik lahan meminta ganti rugi sebasar Rp 15 juta, tetapi warga hanya sanggup memberikan Rp 6 juta sebagai bentuk penghargaan karena lahan tersebut sudah ditanami tanaman perdagangan” paparnya.
Sebagai Mosalaki, dirinya menyayangkan munculnya tuduhan yang begitu keji, padahal mestinya warga berterima kasih apalagi menyangkut perjuangan Rudolfus Ndate yang sudah 3 periode ( 15 tahun ) menjabat sebagai kepala desa yang telah membangun dan membawah Ondorea Barat ke arah yang lebih baik.
Hal senada diungkapan Muhamad Ansor,imam Mesjid Nangamboa. Menurut Ansor,masyarakat desa Ondorea Barat begitu antusias dan senang ketika mendapat informasi bahwa pemerintah pusat melalui Kementrian Komunikasi dan Informarmatika akan membangun tower BTS 4G di wilayah tersebut.
Dari perjalanan survey, para tim mendapat sambutan hangat dari warga desa Ondorea Barat karena selama ini kesulitan menerima akses internet,apalagi jika ingin berkomunikasi ( telepon seluler) jaringannya sangat menyedihkan.
Tim survey akhirnya menemukan lahan milik Benediktus Seto yang cocok untuk pembangunan tower BTS tesebut.
“Di lahan milik pak Bene ini sudah dipenuhi tanaman perdagangan, sehingga waktu itu saya juga sebagai salah satu anggota BPD, berembuk dengan kepala desa untuk menghimbau kepada warga bisa menyumbangkan uang sebagai bentuk penghargaan atas tanaman perdagangannya tersebut, jadi kita semua memberikan sumbangan Rp 100.000/KK, nah, ada juga warga yangsampai saat ini tidak memberikan sumbangan itu,sehingga dari yang dikumpulkan, hanya Rp 6 juta yang diberikan kepada pak Bene,sisanya kami atur untuk biaya komsumsi saat peresmian BTS se kabupaten Ende berpusat di desa kami “paparnya.
Menurut dia, lokasi pembangunan BTS tersebut sudah diselesaikan secara musyawarah,dan semuanya sudah sesuai prosedur.
Sementara itu, Benediktus Seto pemilik lahan Nataute,lokasi dimana pembangunan BTS dilakukan menyampaikan terima kasih kepada pemerintah desa dan seluruh masyarakat desa Ondorea Barat, Mosalaki, tokoh adat, tokoh agama yang telah menghargai jeri payahnya berupa uang sebesar Rp 6 juta sebagai kopensasi ganti rugi tanaman perdagangan di lokasi pembangunan BTS tersebut.
Dirinya mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada mantan kades Ondorea Barat yang telah memperjuangkan pembangunan menara tower di desa Ondorea Barat.
Menurut Benedikutus, dirinya sama sekali tidak perna menerima sepersenpun anggaran dari pemerintah pusat melalui Kemenkoinfo sebagai bentuk ganti rugi atas lahan itu.
“Saya sama sekali tidak perna menerima satu rupiah pun dari pemerintah pusat,bahkan seluruh karyawan yang bekerja membangun Tower ini,saya tampung di rumah saya,makan minum gratis bahkan hampir semua pekerjaan pembangunan itu kita bantu”paparnya ( B76/tim)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
