<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Araksi NTT &#8211; Redaksi76.com</title>
	<atom:link href="https://redaksi76.com/topic/araksi-ntt/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://redaksi76.com</link>
	<description>Aktual Terpercaya</description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 Mar 2023 16:44:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://redaksi76.com/wp-content/uploads/2026/01/cropped-512-32x32.png</url>
	<title>Araksi NTT &#8211; Redaksi76.com</title>
	<link>https://redaksi76.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>PH AB: Laporan Dugaan Korupsi Pembangunan Jalan dan Embung Nifuboke Tidak Palsu</title>
		<link>https://redaksi76.com/hukum-kriminal/ph-ab-laporan-dugaan-korupsi-pembangunan-jalan-dan-embung-nifuboke-tidak-palsu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi76.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Mar 2023 16:44:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://redaksi76.com/?p=1432</guid>

					<description><![CDATA[Kupang,redaksi76.com,&#8211; Kuasa hukum Ketua Araksi NTT, AB yang didakwa JPU dalam dugaan laporan palsu membantah...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Kupang,redaksi76.com</em></strong>,&#8211; Kuasa hukum Ketua Araksi NTT, AB yang didakwa JPU dalam dugaan laporan palsu membantah bahwa laporan kliennya melakukan tindakan pidana membuat laporan palsu terkait dugaan korupsi proyek pembangunan Embung Nifuboke dan pembangunan jalan di Kabupaten Timor Tengah Utara ( TTU) bukan laporan palsu.</p>
<p>Hal ini disampaikan Jemy Haekase, SH dan Ferdy Maktaen dalam wawancara bersama tim media ini, Rabu (22/3/23).</p>
<p>&#8220;<em>Hemat kami, apa yang disampaikan AB ke pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT itu bukan laporan palsu. Proyek Embung Nifuboke dan pembangunan jalan yang dilaporkan AB itu benar-benar ada dan tidak berfungsi dan/atau tidak sesuai</em> <em>spesifikasinya. Jadi bagaimana dikatakan</em> <em>palsu?’</em> tandas Jemy Haekase.</p>
<p>Buktinya lanjut Haekase, Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT menindaklanjuti laporan AB dengan cara menunjuk salah satu orang Jaksa dari Kejati NTT turun ke Lokasi di TTU dan melihat langsung apa yang dilaporkan AB.</p>
<p>Selain itu, menurut Jemy, Kejati NTT juga telah mengeluarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) yang ditujukan keoada kliennya. “<em>Isinya menyampaikan laporan perkembangan penyelidikan atas laporan dugaan korupsi Embung Nifuboke dan Jalan yang dilaporkan klien kami,</em>” ungkapnya.</p>
<p>Dengan demikian, kata Haekase, secara hukum bisa dipertanggungjawabkan bahwa itu bukan laporan palsu .</p>
<p>“<em>Karena Kejati NTT telah merespon itu dan membuat SP2HP kepada Pelapor (AB ) setelah melaporkan dugaan korupsi Embung Nifuboke dan pembangunan jalan,&#8221;</em> tegasnya.</p>
<p>Oleh karena itu, Haekase sangat menyayangkan adanya kekeliruan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam penerapan pasal 23 UU Tipikor terhadap kliennya.</p>
<p>&#8220;<em>Penerapan pasal 23 UU Tipikor seperti yang didakwakan oleh Jaksa bahwa itu adalah laporan palsu adalah kekeliruan. Ini sangat disayangkan,&#8221;</em> kritiknya.</p>
<p>Menurut Haekase, pihaknya tetap konsisten pada Eksepsinya (Keberatan terdakwa atas dakwaan JPU, red).</p>
<p>“<em>Karena dakwaan JPU terhadap kliennya terkait dugaan laporan palsu proyek Embung Nifuboke dan pembangunan jalan di TTU terhadap kliennya kabur dan unsurnya tidak terpenuhi. Oleh</em> <em>karena itu, kami juga berharap Majelis Hakim secara objektif melihat alasan-alasan materi eksepsi yang kami ajukan sehingga dapat menetapkan Putusan Sela yang nanti akan kita dengar pada</em> <em>persidangan tanggal 28 Maret 2023,&#8221;</em> pintanya.</p>
<p>Hal senada juga dikatakan Ferdi Maktaen, SH. Menurutnya, penerapan Pasal 23 UU Tipikor okeh JPU terhadap kliennya adalah kekeliruan fatal yang dilakukan JPU.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Diduga Dengan Sewenang-Wenang, Kajari TTU dan Kroni-Kroninya Lakukan Intimidasi dan Kriminalisasi Terhadap Wartawan FN</title>
		<link>https://redaksi76.com/hukum-kriminal/diduga-dengan-sewenang-wenang-kajari-ttu-dan-kroni-kroninya-lakukan-intimidasi-dan-kriminalisasi-terhadap-wartawan-fn/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi76.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Mar 2023 09:24:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://redaksi76.com/?p=1333</guid>

					<description><![CDATA[Kupang,Berita 76.Com,-&#8211; Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Robert Lambila, SH, MH...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>Kupang,Berita 76.Com,-</strong>&#8211; Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Robert Lambila, SH, MH dan 12 orang jaksa yang menjadi kroni-kroninya alias anak buahnya diduga telah melakukan intimidasi dan kriminalisasi terhadap Wartawan FH-NTT, FN dengan cara memanggilnya sebanyak 6 kali namun hanya 2 kali mendapat surat panggilan. HP wartawan FN disita tanpa Surat Perintah Pengadilan.</p>
<p>Berita-berita FN tentang kasus Embung Nifuboke yang ditulisnya, diprint jaksa penyidik dan mempertanyakan berita-berita tersebut dalam pemeriksaan.</p>
<p>Wartawan FN juga dipaksa mengakui/melihat adanya transaksi/pemberian/transfer uang. Ia juga mengaku diperiksa dalam ruang yang dijaga oleh 13 orang jaksa. Ia juga dikawal ketat bak buronan/penjahat kelas kakap saat ke kamar mandi. Wartawan FN juga tidak diizinkan membeli rokok dan makan/minum.</p>
<p>Demikian diungkapkan Wartawan FN kepada wartawan di Kupang, Kamis-Jumat (9-10/3/23).</p>
<p>Menurutnya, Ia merasa tertekan, terintimidasi dan dikriminalisasi oleh Kajari TTU, Robert Lambila dan anak buahnya.</p>
<p><a href="https://redaksi76.com/wp-content/uploads/2023/03/IMG-20230311-WA0031.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-large wp-image-1335" src="https://redaksi76.com/wp-content/uploads/2023/03/IMG-20230311-WA0031-400x225.jpg" alt="" width="400" height="225" srcset="https://redaksi76.com/wp-content/uploads/2023/03/IMG-20230311-WA0031-400x225.jpg 400w, https://redaksi76.com/wp-content/uploads/2023/03/IMG-20230311-WA0031-768x432.jpg 768w, https://redaksi76.com/wp-content/uploads/2023/03/IMG-20230311-WA0031-250x140.jpg 250w, https://redaksi76.com/wp-content/uploads/2023/03/IMG-20230311-WA0031.jpg 650w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" /></a></p>
<p>“<em>Saya sebagai jurnalis FH-NTT, saya merasa dalam hati kok setiap kali saya tulis berita terkait proyek di kabupaten TTU, saya dipanggil dan diperiksa terkait pemberitaan. Saya merasa ketakutan juga dan saya diintimidasi habis-habisan. Ini yang membuat saya kecewa karena</em> <em>menghalang-halang kebebasan pers. Saya merasa dikriminalisasi</em>,” ungkap FN.</p>
<p>Wartawan FN menjelaskan bahwa Sejak tanggal 10 Februari 2023, ia merasa diintimidasi dan ditekan/dipaksa oleh Kajari Roberth Lambila dan anak buahnya, antara lain Kasi Pidsus, Andrew Keya dan Kasi Intel, Hendrik Tiip.</p>
<p>“<em>Sejauh ini saya memang ditekan habis-habisan. Kalau saya muat berita atau mereka baca berita yang saya buat</em>, <em>mereka langsung panggil saya untuk menghadap. Mereka bilang, adik sudah tidak usah tulis berita. Adik masih muda</em>. <em>Urus ko nikah. Supaya ini masalah selesai ko adik bisa urus yang lain-lain. Mereka tekan saya supaya jangan buat</em> <em>berita dan jangan bagikan berita yang ada,”</em> bebernya.</p>
<p>FN juga membantah pernyataan Kajari Lambila bahwa dirinya diperiksa sebagai anggota Araksi</p>
<p>“<em>Kalau saya dipanggil sebagai anggota Araksi, kenapa ID Card Pers saya diminta dan di copy? Kenapa mereka print berita-berita saya lalu tanya dan</em> <em>minta penjelasan saya tentang berita terkait Embung Nifuboke?”</em> kritiknya.</p>
<p>Menurut FN, ia telah menjadi wartawan FH-NTT sekitar 3 tahun.“<em>Saya menjadi anggota Araksi TTU, sebagai Wakil Ketua Bidang Media sudah 4 bulan. Tugas saya hanya sebatas publikasi media saat ada</em> <em>jumpa/pernyataan pers Araksi. Tidak lebih dari itu,</em>” tegasnya.</p>
<p>Menurut Wartawan FN, Ia dipanggil sebanyak 6 kali. “<em>Saya dipanggil 6 kali. Tiga kali diambil Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Tapi hanya di kasih 2 surat panggilan. Surat panggilan tanggal 10 Februari 2023 baru dikasih</em> <em>untuk ditanda tangani tanggal 21 Februari 2023 (11 hari kemudian, red). Sedangkan surat panggilan kedua, untuk pemeriksaan tanggal 20 Februari 2023, di kasih pada</em> tanggal 19 Februari 2023 &#8221; tandasnya</p>
<p>Sementara pemeriksaan tanggal 11 tanpa surat panggilan. Selain itu, saya juga di panggil pertelepon tidak untuk untuk ditanya-tanya dan disuruh untuk tidak buat berita terkait dugaan korupsi Embung Nifuboke dan proses pemeriksaan saya oleh Kejari TTU,” ujarnya.</p>
<p>Pemeriksaan pertama, jelas wartawan FN dilakukan pada tanggal 10 Februari 2023.</p>
<p>“<em>Itu tanpa surat panggilan. Awalnya, saya dan Ketua Araksi TTU, CB diminta Kasi Intel Kejari TTU, Hendrik Tiip untuk minum kopi. Kami bertemu di</em> <em>rumah makan di samping kantor Bank NTT. CB minum kopi dan saya makan. Kasi Intel bilang saat itu, makan banyak adik karena nanti kita lama. Kemudian kami</em> <em>ke kantor Kejari, saya diarahkan untuk duduk di ruang tunggu , selama 1 menit. Ketua Araksi TTU, CB diminta tinggalkan HP dan ikut dengan Kasi Intel Hendrik Tiip ke ruangan</em>,” bebernya.</p>
<p>Kemudian, lanjut FN, datang Kajari TTU, Roberth Jimmy Lambila mengatakan, “<em>Lu wartawan ikut saya ke ruangan. Itu sekitar pukul 14.00 Wita. Setelah saya tiba di ruanganya, saya ditanyai terkait dengan Embung Nifuboke TTU</em> <em>yang sementara bermasalah sebab pengerjaannya tidak sesuai dengan mekanisme. Lalu saya menjawab, sesuai dengan hasil observasi saya di lapangan</em> <em>bahwa terkait Embung tersebut memang benar tak ada asas manfaat sebab Embung Nifuboke yang di bangun dengan uang negara Mubasir, tidak ada airnya. Saya jelaskan kalau pun ada air</em> <em>itu ditarik dari Kali Oeluan. Kajari Robert mengatakan adik mengaku saja karena target kami AB (Ketua Araksi NTT, red) dan HT (Pengusaha asal TTU, red)</em>,” ungkapnya.</p>
<p>Lalu, lanjut wartawan FN, Kajari TTU menyuruh salah satu penyidiknya untuk mengarahkannya ke ruang sebelah untuk dimintai keterangan terkait dengan Embung Nifuboke. Saat itu, FN diperiksa hingga jam 1 malam.</p>
<p>“<em>Saya didesak habis-habisan untuk mengakui pertanyaan mereka bahwa saya melihat pemberian uang dari Kontraktor Pelaksana Embung Nifuboke, MT (Direktur CV. Gratia) kepada</em> <em>Ketua Araksi TTU. Tapi saya bilang saya tidak lihat bagaimana saya bilang lihat. Saya diperiksa sampai jam 1 malam,”</em> jelasnya.</p>
<p>Setelah itu, menurut wartawan FN, HP-nya disita dan ia dipaksa untuk menandatangani surat penyitaan.</p>
<p>“<em>Saat itu HP saya di sita. Dan di Jam 1 malam itu (11/02/23 dini hari, red)), saya dipaksa tanda tangan surat penyitaan HP. Saya mengatakan, Hae</em> <em>bapak ini sudah bagaimana kok hp saya disita tanpa prosedural? Lalu penyidik mengatakan ini sudah sesuai dengan mekanisme</em> <em>yang ada dan adik pasti paham,&#8221; ujarnya</em> menirukan perkataan Jaksa.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
