<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Keadilan Sosial Adalah Mandat &#8211; Redaksi76.com</title>
	<atom:link href="https://redaksi76.com/tag/keadilan-sosial-adalah-mandat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://redaksi76.com</link>
	<description>Aktual Terpercaya</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Sep 2025 03:08:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://redaksi76.com/wp-content/uploads/2026/01/cropped-512-32x32.png</url>
	<title>Keadilan Sosial Adalah Mandat &#8211; Redaksi76.com</title>
	<link>https://redaksi76.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Negara Tidak Boleh Lupa: Keadilan Sosial Adalah Mandat, Bukan Slogan</title>
		<link>https://redaksi76.com/opini/negara-tidak-boleh-lupa-keadilan-sosial-adalah-mandat-bukan-slogan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi76.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2025 03:08:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Bukan Slogan]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan Sosial Adalah Mandat]]></category>
		<category><![CDATA[Negara Tidak Boleh Lupa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://redaksi76.com/?p=7963</guid>

					<description><![CDATA[Opini Dr. Ir. Karolus Karni Lando,MBA Redaksi76.com &#8211; Tulisan Dr. Andi Yuslim Patawari yang berjudul...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr" style="text-align: center;"><strong>Opini</strong></p>
<p dir="ltr" style="text-align: center;"><strong>Dr. Ir. Karolus Karni Lando,MBA</strong></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><strong><a href="http://Redaksi76.com" target="_blank" rel="noopener">Redaksi76.com</a> &#8211;</strong> Tulisan Dr. Andi Yuslim Patawari yang berjudul “Negara Lagi Lupa Bahwa Perut Nggak Bisa Dibohongi” merupakan refleksi tajam atas realitas sosial-ekonomi yang tengah melanda bangsa ini.</p>
<p dir="ltr">Esensi dari tulisan tersebut menyentuh akar persoalan mendasar: negara tidak bisa terus-menerus hadir hanya dalam bentuk pidato dan janji politik. Rakyat membutuhkan bukti nyata berupa kepastian hidup yang layak dan berkelanjutan.</p>
<p dir="ltr">Kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, serta komoditas strategis lainnya harus dapat diakses dengan harga terjangkau.</p>
<p dir="ltr">Namun faktanya, jika kita mengarahkan pandangan ke wilayah timur Indonesia &#8211; khususnya Flores, Lembata, dan Alor di Provinsi Nusa Tenggara Timur &#8211; apa yang disuarakan oleh Dr. Patawari bukanlah retorika, melainkan realitas yang dialami sehari-hari oleh masyarakat di sana.</p>
<p dir="ltr">Harga kebutuhan pokok di wilayah-wilayah tersebut sering kali lebih tinggi dibandingkan dengan kawasan lain di Indonesia. Ironisnya, hal ini tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja yang memadai.</p>
<p dir="ltr">Akibatnya, gelombang migrasi tenaga kerja muda ke luar daerah, bahkan ke luar negeri, menjadi fenomena yang tidak terelakkan. Mereka terpaksa meninggalkan kampung halaman demi mencari penghidupan yang layak.</p>
<p dir="ltr">Padahal, potensi lokal di Flores, Lembata, dan Alor sangatlah menjanjikan. Sektor pertanian, perikanan, hingga pariwisata menyimpan kekuatan ekonomi yang besar.</p>
<p dir="ltr">Namun, keterbatasan akses terhadap permodalan, teknologi, serta pasar menghambat pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang seharusnya menjadi pilar utama ekonomi kerakyatan.</p>
<p dir="ltr">Sayangnya, kebijakan pembangunan sering kali lebih berpihak kepada investor besar, sementara rakyat kecil dibiarkan berjuang sendiri di tengah sistem yang timpang.</p>
<p dir="ltr">Ketimpangan akses terhadap layanan dasar juga masih nyata. Di pelosok desa, anak-anak harus menempuh jarak jauh untuk mengenyam pendidikan. Akses terhadap layanan kesehatan yang layak pun masih terbatas.</p>
<p dir="ltr">Sementara itu, para petani dan nelayan kesulitan meningkatkan produktivitas akibat minimnya infrastruktur dan rendahnya keberpihakan kebijakan.</p>
<p dir="ltr">Kondisi-kondisi tersebut tidak sekadar melahirkan keresahan, tetapi juga kegelisahan yang dalam di kalangan rakyat.</p>
<p dir="ltr">Mereka tidak sedang marah untuk menghancurkan, melainkan lapar, cemas, dan merasa diabaikan oleh negara yang seharusnya melindungi dan memberdayakan mereka.</p>
<p dir="ltr">Karena itu, solusi yang ditawarkan oleh Dr. Patawari patut diapresiasi dan diimplementasikan secara konkret.</p>
<p dir="ltr">Penciptaan lapangan kerja yang bermartabat, pembangunan iklim investasi yang sehat dan inklusif, penguatan UMKM sebagai motor penggerak ekonomi rakyat, serta pengurangan ketimpangan akses terhadap layanan publik adalah langkah-langkah strategis yang harus menjadi prioritas pembangunan, khususnya di wilayah-wilayah tertinggal.</p>
<p dir="ltr">Keadilan sosial sebagaimana tercantum dalam sila kelima Pancasila bukanlah sekadar jargon normatif, melainkan mandat konstitusional yang wajib diwujudkan oleh negara.</p>
<p dir="ltr">Pemikiran Dr. Andi Yuslim Patawari merepresentasikan kerinduan kolektif masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya di Flores, Lembata, dan Alor: sebuah harapan akan Indonesia yang lebih adil, lebih manusiawi, dan sungguh berpihak pada rakyat kecil.</p>
<p dir="ltr"><strong>Salam Persatuan Indonesia.</strong></p>
<p dir="ltr"><strong>Penulis: Arnold Dewa</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
