<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>dari Polres Ende &#8211; Redaksi76.com</title>
	<atom:link href="https://redaksi76.com/tag/dari-polres-ende/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://redaksi76.com</link>
	<description>Aktual Terpercaya</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Mar 2026 12:37:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://redaksi76.com/wp-content/uploads/2026/01/cropped-512-32x32.png</url>
	<title>dari Polres Ende &#8211; Redaksi76.com</title>
	<link>https://redaksi76.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menyalakan Terang di Kota Pancasila: Kisah Lilin Paskah dari Polres Ende</title>
		<link>https://redaksi76.com/feature/menyalakan-terang-di-kota-pancasila-kisah-lilin-paskah-dari-polres-ende/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi76.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2026 12:37:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[dari Polres Ende]]></category>
		<category><![CDATA[di Kota Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Lilin Paskah]]></category>
		<category><![CDATA[Menyalakan Terang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://redaksi76.com/?p=10355</guid>

					<description><![CDATA[Redaksi76.com &#8211; Siang itu, matahari menggantung tenang di langit Kota Ende. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><strong><a href="http://Redaksi76.com" target="_blank" rel="noopener">Redaksi76.com</a> &#8211;</strong> Siang itu, matahari menggantung tenang di langit Kota Ende. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas warga, sekelompok aparat berseragam cokelat bergerak menyusuri jalan-jalan kota.</p>
<p dir="ltr">Namun langkah mereka bukan untuk penegakan hukum, melainkan membawa pesan sederhana yang sarat makna: terang.</p>
<p dir="ltr">Menjelang perayaan Paskah 2026, Kepolisian Resor Ende memilih cara yang berbeda untuk hadir di tengah masyarakat.</p>
<p dir="ltr">Bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga merawat rasa—melalui penyerahan lilin Paskah ke delapan paroki dan Keuskupan Agung Ende.</p>
<p dir="ltr">Dipimpin Wakapolres Ende, Kompol Ahmad, rombongan memulai perjalanan pada Senin siang itu. Dari satu gereja ke gereja lain, lilin-lilin dibagikan—bukan sekadar benda, melainkan simbol harapan, damai, dan kebersamaan.</p>
<p dir="ltr">Perhentian pertama di Keuskupan Agung Ende menjadi momen yang hangat. Di sana, lilin diterima oleh RD. Efraem Pea. Ia menyambut rombongan dengan senyum dan rasa syukur yang tak disembunyikan.</p>
<p dir="ltr">Baginya, kehadiran polisi bukan hanya soal pengamanan, tetapi juga kehadiran yang menenangkan.</p>
<p dir="ltr">“Perayaan keagamaan seperti ini bukan lagi milik satu kelompok saja, tapi milik bersama,” ujarnya pelan, menegaskan makna toleransi yang hidup di tanah Ende.</p>
<p dir="ltr">Ia kemudian memandang lilin yang baru saja diterimanya. Dalam cahaya kecil itu, ia melihat sesuatu yang lebih besar: harapan.</p>
<p dir="ltr">Harapan agar aparat kepolisian terus menjadi terang bagi masyarakat—menghadirkan kebaikan di tengah berbagai tantangan.</p>
<p dir="ltr">Perjalanan berlanjut. Di Paroki Santo Yoseph Mautapaga, suasana tak kalah hangat. Pastor Giovani Don Bosco Seso menyambut dengan penuh rasa syukur.</p>
<p dir="ltr">Baginya, lilin bukan sekadar bagian dari liturgi, tetapi pengingat akan panggilan bersama sebagai pembawa terang.</p>
<p dir="ltr">“Ini tanda perdamaian, tanda cinta, dan tanda berkat,” ucapnya.</p>
<p dir="ltr">Di tengah suasana yang akrab, terselip rasa haru. Kehadiran aparat kepolisian memberi keyakinan bahwa umat tidak berjalan sendiri dalam merayakan iman mereka.</p>
<p dir="ltr">Ada rasa aman yang tumbuh—bahwa setiap prosesi Pekan Suci akan berlangsung dalam perlindungan.</p>
<p dir="ltr">Dari Roworeke hingga Bhoanawa, dari katedral hingga kuasi paroki, pesan yang sama bergema: kebersamaan masih terjaga, toleransi masih hidup.</p>
<p dir="ltr">Bagi masyarakat Ende, aksi ini bukan hal besar dalam bentuk, tetapi besar dalam makna. Di tengah dunia yang kerap diramaikan perbedaan, sebuah lilin kecil justru mampu menjadi jembatan.</p>
<p dir="ltr">Kompol Ahmad menyadari hal itu. Di sela kegiatan, ia menegaskan bahwa peran kepolisian tidak berhenti pada keamanan fisik.</p>
<p dir="ltr">“Kami ingin hadir juga secara moral dan spiritual, mendukung masyarakat yang merayakan hari besar keagamaannya,” ujarnya.</p>
<p dir="ltr">Menjelang sore, perjalanan itu pun usai. Lilin-lilin telah berpindah tangan, namun pesan yang dibawanya tetap menyala: tentang persaudaraan, tentang kehadiran, dan tentang harapan.</p>
<p dir="ltr">Di Kota Ende—yang kerap disebut sebagai Kota Pancasila—terang itu tidak hanya bersumber dari altar gereja.</p>
<p dir="ltr">Ia juga lahir dari langkah-langkah kecil, dari niat baik, dan dari perjumpaan sederhana antara aparat dan umat.<br />
Dan mungkin, seperti yang diharapkan banyak orang hari itu, terang itu akan terus menyala—jauh melampaui Paskah.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
