Jokowi Dan NTT: Kepemimpinan Yang Hadir, Bekerja, Dan Dekat Dengan Rakyat

Reporter : Arnold Dewa Editor: Tim
Ket.Foto: Dr.Ir.Karolus Karni Lando,MBA.istimewa

“Kritik dapat menggema di panggung politik, tetapi jasa yang telah dirasakan rakyat akan tetap hidup di dalam hati.” Dr.Ir. Karolus Karni Lando, MBA

Redaksi76.com – Bagi sebagian besar masyarakat awam di Nusa Tenggara Timur, seorang presiden tidak semata-mata dinilai dari banyaknya teori, pidato, janji, ataupun perdebatan politik di tingkat nasional. Masyarakat lebih melihat hal-hal yang sederhana, nyata, dan langsung menyentuh kehidupan mereka sehari-hari.

Seorang pemimpin akan lebih mudah dikenang ketika ia hadir di tengah masyarakat, datang melihat langsung kondisi daerah, mendengarkan keluhan dan harapan rakyat, serta memahami berbagai keterbatasan yang masih dihadapi masyarakat NTT.

Kehadiran tersebut menjadi semakin berarti apabila diikuti dengan pembangunan yang benar-benar dapat dirasakan, seperti perbaikan jalan dan jembatan, pembangunan bendungan dan sarana air bersih, peningkatan pelabuhan dan bandara, pelayanan kesehatan dan pendidikan, dukungan bagi pertanian dan peternakan, serta terbukanya akses ekonomi hingga ke wilayah pedesaan dan kepulauan.

Dari sudut pandang tersebut, hubungan antara masyarakat Nusa Tenggara Timur dan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, perlu dipahami secara lebih dekat. Bagi sebagian besar masyarakat NTT, Jokowi tidak hanya dikenang sebagai seorang presiden yang memimpin pemerintahan dari Jakarta, tetapi sebagai pemimpin yang beberapa kali hadir langsung di tengah masyarakat, melihat kondisi daerah dengan mata kepala sendiri, mendengarkan aspirasi rakyat, serta menyapa masyarakat secara sederhana dan terbuka.

PEMIMPIN YANG HADIR LANGSUNG DI TENGAH RAKYAT

Salah satu kekuatan utama Jokowi adalah kemampuannya membangun kedekatan emosional dengan masyarakat. Ia hadir dengan gaya yang sederhana, tidak terlalu formal, dan tidak menciptakan jarak yang berlebihan antara seorang kepala negara dan rakyat biasa.

Ketika berkunjung ke Ende pada 2022, Jokowi tidak hanya menjalankan agenda kenegaraan dan bermalam di kota tersebut. Pada malam hari, di luar agenda yang direncanakan, ia mendatangi beberapa rumah warga di Lorong Winirai, Gang Kaget. Ia menyapa masyarakat secara langsung dan membagikan bantuan sembako.

Peristiwa seperti ini meninggalkan kesan mendalam karena masyarakat merasa dihargai dan diperhatikan oleh pemimpin tertinggi negara.

Bagi masyarakat NTT, tindakan sederhana seperti berjalan memasuki lorong permukiman, berjabat tangan, berbicara dengan warga, dan melihat rumah masyarakat dari dekat memiliki arti yang sangat besar. Rakyat merasa Jokowi bukan pemimpin yang hanya dapat dilihat dari kejauhan. Mereka merasa tidak terdapat kesenjangan yang terlalu lebar antara presiden dan masyarakat.

Kedekatan semacam ini tidak dapat dibentuk hanya melalui kampanye atau pencitraan sesaat. Kedekatan itu tumbuh dari kehadiran yang berulang, komunikasi langsung, dan pengalaman nyata yang tersimpan dalam ingatan masyarakat.

PEMBANGUNAN YANG LEBIH NYATA DAN DAPAT DILIHAT

Pada masa kepemimpinan Jokowi, perhatian terhadap pembangunan Indonesia bagian timur, termasuk NTT, semakin terlihat. Pembangunan dan peningkatan jalan, jembatan, bendungan, pelabuhan, bandara, fasilitas air bersih, kawasan perbatasan, serta konektivitas antarwilayah memberikan perubahan yang dapat diamati secara langsung.

Pembangunan jalan tidak hanya menghadirkan permukaan aspal. Jalan yang lebih baik memperpendek waktu perjalanan, membantu anak-anak menuju sekolah, memudahkan masyarakat mencapai fasilitas kesehatan, serta memperlancar distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok. Pelabuhan dan bandara memperkuat hubungan antarpulau, sementara bendungan dan sarana air memberikan harapan bagi pertanian serta ketahanan pangan masyarakat.

Pada 2023, Jokowi juga meresmikan Jalan Akses Labuan Bajo–Golo Mori untuk mendukung konektivitas dan pengembangan kawasan di Manggarai Barat.

Di Kota Kupang, pemerintah pada era Jokowi meresmikan berbagai fasilitas penting, antara lain Rumah Sakit Umum Pusat dr. Ben Mboi, Sistem Penyediaan Air Minum, serta rehabilitasi Gereja Katedral Keuskupan Agung Kupang. Kehadiran rumah sakit pusat menjadi sangat penting karena masyarakat NTT membutuhkan pelayanan kesehatan rujukan yang lebih dekat dan berkualitas.

Perhatian terhadap wilayah perbatasan juga ditunjukkan melalui pembangunan Pos Lintas Batas Negara. Untuk PLBN Napan di Kabupaten Timor Tengah Utara, pemerintah menyebut anggaran sekitar Rp128 miliar. Infrastruktur perbatasan tidak hanya menjadi simbol kedaulatan, tetapi juga membuka akses ekonomi dan meningkatkan pelayanan bagi masyarakat di garis depan negara.

LABUAN BAJO DAN KEBANGKITAN PARIWISATA NTT

Salah satu warisan pembangunan yang paling mudah dikenali adalah perubahan besar di Labuan Bajo. Pada era Jokowi, Labuan Bajo didorong menjadi salah satu destinasi pariwisata superprioritas nasional.

Pemerintah melakukan pembangunan dan penataan kawasan, meningkatkan jalan, pelabuhan, bandara, fasilitas pariwisata, ruang publik, serta konektivitas menuju berbagai destinasi. Pada 2020, pemerintah menyebut anggaran sekitar Rp970 miliar untuk pembangunan infrastruktur pendukung kawasan pariwisata Labuan Bajo.

Perubahan tersebut bukan hanya meningkatkan citra Labuan Bajo di tingkat nasional dan internasional. Pariwisata juga membuka ruang bagi hotel, restoran, transportasi, UMKM, kerajinan, pemandu wisata, nelayan, petani, dan berbagai usaha masyarakat.

Meskipun manfaat pembangunan masih harus terus diperluas agar semakin merata kepada masyarakat kecil, tidak dapat dimungkiri bahwa pada masa Jokowi, Labuan Bajo memperoleh perhatian nasional yang sangat besar dan menjadi pintu utama pengenalan NTT kepada dunia.

AIR, PERTANIAN, KETAHANAN PANGAN, DAN BANTUAN SOSIAL

Persoalan air merupakan salah satu tantangan utama NTT. Oleh karena itu, pembangunan bendungan, embung, jaringan irigasi, dan sarana air bersih memiliki arti strategis. Pembangunan tersebut membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, mendukung pertanian, serta mengurangi kerentanan masyarakat terhadap musim kemarau.

Program bantuan sosial, bantuan pangan, pendidikan, kesehatan, dan perlindungan masyarakat juga dirasakan oleh banyak keluarga. Dalam kunjungan kerja di Kupang pada Desember 2023, Jokowi mengecek persediaan beras dan membagikan bantuan pangan cadangan beras pemerintah kepada keluarga penerima manfaat.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Redaksi76.Com

+ Gabung

Exit mobile version